Kisah Secangkir Teh Di Kraton Ngayogjakarta
Tradisi minum teh ternyata juga menular dalam
kehidupan berbagai kerajaan di negeri ini. Kerajaan Mataram di Jawa, misalnya
menjadikan minum teh sebagai tradisi kebesaran dalam berbagai perjamuan para
raja. Tradisi itu, hingga kini masih ada dan bisa ditelusuri dalam kebiasaan
Keraton Ngayogyakarta di Jogjakarta.
Penelusuran terhadap tradisi itu, menjadi salah satu
topik menarik perjalananku awal Desember 2013 lalu. Bersama dua kawan lainnya,
kami memperkaya khasanah dengan mengobok-obok sejumlah lokasi wisata sejarah di
Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY). Mulai dari Keraton Ngayogayakarta, Candi
Borobudur, Prambanan, Mendut hingga ke pantai Parang Tritis. Semua wilayah itu,
dikenal memiliki daya magis luar biasa.
Memasuki keraton, Kami ditemani seorang guide
bernama Yuliani. Mengitari sejumlah bangunan, didapat keterangan tentang
berbagai bangunan yang ada di komplek itu. Misalnya, bangsal pagelaran (Tratag
Rambat), Bangsal Pemandengan digunakan sebagai tempat duduk sultan bersama
pejabat menyaksikan latihan-latihan perang prajuritnya. Ada pula Bangsal
Kencana yang merupakan bangunan pusat keraton, serta Gedhong Jene tempat
tinggal resmi Sri Sultan Hamengkubuwono X, atau
sejumlah bangunan khusus lainnya.
Salah satu bangunan yang menarik perhatianku, adalah
gedung patehan. Berbeda dengan gedung kepatihan, yakni ruangan pembesar
kesultanan, gedung patehan sederhana jika dibanding bangunan lainnya. Bangunan
ini berdampingan dengan bangunan megah disebelahnya yang dikenal sebagai ruang
perbendaharaan sultan (Gedung Danartapura). Di dalam ruang patehan itulah,
diproduksi teh kebesaran untuk perjamuan para undangan kraton.
Tak cuma gedung patehan itu saja, berbentuk batang
huruf L tegak, didepan gedung patehan ada
juga ruangan yang disebut ‘sarang boyo.’ Berbeda dari ruangan patehan, sarang boyo
merupakan ruang olahan minuman keras yang memabukkan. Minuman keras juga jadi
sajian untuk tamu non muslim, khsusunya orang Barat. “Itu ruangan khusus mengolah
minuman keras. Karena agama sultan seorang muslim, maka ruangan itu disebut ‘sarang
boyo’, artinya tempat berbahaya,” ujar guide kami.
Meski gedung patehan dan gedung sarang boyo,
fungsinya memberikan perjamuan minuman, tapi sifatnya berbeda. Saat ini gedung
sarang boyo tidak lagi digunakan. Sedangkan gedung patehan masih terus
menjalankan perannya.
Ruang patehan terkesan sederhana, karena memang
bangunan itu hanya tempat memproses minuman teh sebelum dihidangkan kepada
sultan. Hanya ada beberapa kamar. Yang pertama ruang sultan minum. Di kamar ini ada satu kursi serta beberapa
lemarin penyimpanan gelas. Ruangan ini
hanya dipakai Amangkurat VIII yang memang suka minum di ruang patehan setiap sore.
Sedangkan para sultan lain, minumannya diantar ke ruangan mereka tiga kali
sehari, yakni pagi, siang dan sore.
Kemudian, ada ruangan penyimpanan saringan teh dari
masa ke masa. Jenis saringan teh ini beragam dari lintasan zaman. Mulai dari
kentongan berbentuk bejana dari tanah hingga saringan teh berasal dari
berabagai negara, yakni Inggris, Belanda hingga Jerman. Ada pula ruangan paling
belakang, yakni dapur patehan tempat para abdi dalem mengaso menunggu waktu
pembuatan dan menghidangkan teh.
Tentang perilaku minum teh para sultan dan
keluarganya, ada kisah-kisah menarik. Moro Seno, 70, abdi dalem yang sudah
puluhan tahun mengabdi di gedung patehan mengungkapkan, pembuatan teh sultan
tak bisa dilakukan sembarangan.
Ketika teh di buat, dipastikan tak langsung
disuguhkan kepada sultan, tapi didahului oleh penguji rasa teh, apakah sudah
sesuai atau tidak. “Pernah ada kasus, sultan tidak meminum suguhan, karena
rasanya berbeda,” ujar Moro Seno. Karena itu, penguji rasa/kualitas teh sangat
diperlukan di gedung patihan itu. Disamping para petugas yang telah hapal
dengan tugas masing-masing. Tak mengherankan jika ruang patehan dipenuhi abdi
dalem jompo dengan tugas khusus itu.
Kraton Jogjakarta saat ini, telah memiliki kemampuan
melakukan usaha bisnis memenuhi keutuhan intern kraton. Misalnya, usai menapak
tilasi komplek keraton, maka guide akan menawarkan pengunjung untuk singgah di
plaza milik keraton di gedung lain. Plaza kraton ini menjual berbagai jenis produk
sandang dengan harga terjangkau. Pakaian batik, misalnya merupakan jenis batik
khas dengan corak khusus produk kraton. Harganya juga terjangkau, mulai dari harga
terendah Rp60 ribu/potong hingga mencapai Rp1 juta/potong.
Puas berada di plaza kraton, keluar dari sana
langsung disambut rumah makan kraton. Guide kami mengatakan para pembesar
bahkan sultan tak jarang makan di ruangan ini. “Sekarang ruangan makan ini
sudah dibuka untuk umum, pengunjung bisa datang dan makan/minum di sini,”
terang wanita paruh baya ini. Pengunjung dipersilahkan makan dengan model
prasmanan alias ala Prancis, dengan mengambil sendiri menu yang diinginkan.
Lalu membayar harga dari makanan/minuman itu.
Dalam kesempatan sama, Kami juga menikmati beberapa
ruangan di sejumlah gedung. Misalnya, melihat ruangan penyimpanan benda-benda
bersejarah kesultanan. Atau tempat pembuatan pakaian resmi kesultanan, serta pembuatan
corak batik khas Jogjakarta.
Penasaran dengan keindahan pantai Parang Tritis di
waktu senja yang katanya penuh nuansa mistis, Kami juga menyempatkan waktu ke
sana. Suasana sunsetnya memang membuat bulu kuduk meremang, karena kondisinya
mampu menyihir pandangan dan perasaan.
Misteri
Borobudur Hingga Prambanan
Sehari sebelumya, rasa penasaran terhadap situs
sejarah yang jadi world heritage,
yakni Candi Borobudur, Prambanan dan Mendut, menuntun Kami menyatroni
situs-situs peninggalan nenek moyang bangsa itu. Rasa penasaran itu, berasal
dari sebuah buku karya Kyai Fahmi Basya berjudul ‘Borobudur Peninggalan Nabi
Sulaiman?’ (2013).
Dalam buku itu diungkapkan betapa struktur bangunan
Candi Borobudur yang diakui arkeolog Barat dibangun masa Dinasti Syailendra
pada Abad VII itu, cocok dengan struktur ayat-ayat dalam kitab suci Al Qur’an.
Kyai Fahmi Basya, yakin betul Borobudur tidak dibangun pada Abad VII oleh
penguasa Hindu/Buddha itu, tapi peninggalan Raja Solomon (Nabi Sulaiman AS),
hidup 989-991 SM, dari masa 3.000 tahun lalu. Bahkan, cerita tentang Candi
Prambanan dan Mendut juga berkaitan dengan perjalanan Raja Bani Israel itu ke
Jawa.
Fakta dan data yang diungkapkan pakar matematika
Islam itu memang mencengangkan, meski di sana sini banyak hal membutuhkan
pertanyaan kritis. Tapi, kegusaran atas fakta yang diungkapkan itu menyegerakan
Aku dan rekan menuju situs purbakala itu.
Dari hotel sederhana di kawasan Pathuk, Jogjakarta,
Kami memulai perjalanan sejauh 25 Km ke arah Kab. Sleman. Dalam masa tempuh
sekira 45 menit itu, Aku menghubungkan kata ‘Sleman’ dengan Sulaiman yang rada
mirip. Dosen UIN Jakarta itu, mengatakan salah satu tanda Nabi Sulaiman AS
pernah ke Jawa, adalah nama Sleman, selain nama Wonosobo atau Wanasaba (dua
hutan) sebagai tanda Negeri Saba’ yang diungkap dalam Al Qur’an.
Ketika menjejakkan kaki di kawasan Borobudur itu,
ketakjuban memang datang dalam pikiran. Betapa tidak, selaksa pertanyaan muncul
dalam benak ini. Misalnya, bagaimana bisa manusia di masa itu dengan alat-alat
sederhana bisa melahirkan maha karya seagung Borobudur. Bahkan, untuk satu batu
saja, membutuhkan alat angkut dan dongkrak yang rumit, karena berat satu potong
batu Borobudur, agaknya mencapai 1 ton. Belum lagi menyusun batu-batu itu
secara terstruktur dan sistematis, membentuk sebuah bangunan dengan ketinggian
puluhan meter.
Belum lagi struktur pahatan di dinding batu bersusun
itu, seolah mengabarkan betapa ketrampilan itu belum dimiliki manusia kala itu,
tapi oleh makhluk lain. Coba bayangkan, relief di dinding batu bersusun
Borobudur itu, tertata secara runtut menceritakan satu episode kisah yang
pernah dialami satu generasi manusia di masa lalu. Laporan dari relief itu
begitu mempesona, karena dipahat dengan ketrampilan tinggi yang tak sembarang
orang menguasainya. Melalui sejumlah teras, relief itu mengisahkan banyak hal
seakan mereportase berbagai peradaban yang ada sebelum candi itu dibangun.
Jika reportase yang terlihat itu lengkap, apakah
manusia kala itu memiliki perpustakaan yang lengkap sehingga bisa merekam
kejadian dari masa ke masa, kemudian memahatnya secara indah? Pertanyaan itu
menggayuti pikiranku. Sebuah pekerjaan super yang secara logis membutuhkan
penelitian lebih jauh. Maka, Aku ragu apakah memang para pemahat Dinasti
Syailendra yang membuatnya, kala di abad sama di Pulau Sumatera, komunitas
Muslim baru menjejakkan kakinya di Barus.
Hal lain yang menjadi misteri di Candi Borobudur,
adalah stupa di atas candi berjumlah 19 unit. Di mana salah satu stupa itu
kosong, sedangkan 18 stupa lainnya berisi patung. Apakah mungkin dalam
pembuatannya, para arsitek candi itu sengaja mengosongkan, atau terlupakan
dalam mengisinya. Tentu saja pengosongan salah satu stupa itu jadi misteri
abadi yang sulit untuk menjawabnya. Banyak hal yang menimbulkan pertanyaan dari
pisik Borobudur, sehingga bagi mereka yang berakal, candi itu memberikan banyak
ibrah (pelajaran) kepada pengunjungnya.
Candi Prambanan, secara pisik juga mengundang
keheranan luar biasa kepada mereka yang mau memikirkannya. Kumpulan candi itu,
merupakan sebuah komplek percandian yang dikenal sebagai Candi Loro Jonggrang. Para sejarahwan dan arkeolog Barat, meyakini
candi ini dibangun sekira Abad IX oleh Dinasti Sanjaya. Artinya, baru dibangun
2 abad sesudah pembangunan Borobudur. Petunjuknya hanya satu saja, di candi itu
ada kata ‘Pikatan’ yang diyakini sebagai Rakay Pikatan, sebagai penguasa
wilayah kala itu.
Dari sejumlah keterangan, Candi Prambanan terdiri
atas tiga pelataran yang semua diisi candi
sudah dipugar dan yang belum dipugar. Diperkirakan, jika seluruhnya
sudah dipugar, akan ada sekira 224 unit candi. Semua candi itu luas dan
tingginya sama, yakni luas dasar 6 meter dan tinggi 14 meter. Pada latar paling
atas, terdapat 16 candi yang sudah dipugar sekira 1982 lalu. Candi itu,
masing-masing Candi Siwa, Candi Wishnu, Candi Brahma. Berikutnya, Candi Nandi,
Angsa, Garuda. Kemudian ada juga candi Apit, Kelir dan Sudut serta sejumlah
candi kecil-kecil lainnya.
Sedangkan candi disekitar Prambanan, yakni Candi
Plaosan, Sojiwan, Boko, Banyunibo, Sari, Banyunibo, Kalasan, dan Sambisari.
Aku hanya menikmati sensasi candi induk di komplek
Prambanan, yakni Siwa, Wishnu, Brahma, juga beberapa candi lain, yakni Candi
Garuda, Angsa dan Ganesha. Pada candi terakhir puncak candi tergeletak di tanah
dan tak diperbaiki. Kondisi itu dibiarkan sebagai peringatan kejadian gempa
yang merusak sebagian candi di komplek itu, beberapa tahun lalu.
Terakhir, aku
menyempatkan melihat dan masuk ke Candi Mendut. Candi ini hanya menyendiri.
Hingga kini, keberadaan patung di dalam candi Mendut masih digunakan sebagai
sesembahan oleh penganut Hindu/Buddha. Satu hal dari kunjungan itu, aku mulai
memahami sebuah teori betapa masing-masing agama, punya benang biru yang
berhubungan satu dengan lainnya. Namun, tetaplah Islam menjadi agama terakhir
dari seluruh rangkaian historisitas agama-agama itu.A. Khalik
Post a Comment for "Kisah Secangkir Teh Di Kraton Ngayogjakarta"