----iklan---- Kisah Secangkir Teh Di Kraton Ngayogjakarta - JEJAK KHALIK
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Secangkir Teh Di Kraton Ngayogjakarta

     
Minum teh (tea), adalah tradisi yang usianya sudah ribuan tahun. Disebut-sebut, berbagai peradaban besar di muka bumi ini, menjadikan minum teh (camellia sinensis) sebagai bagian tradisi tinggi yang mencerminkan tata krama suatu kekuasaan. Bemula dari legenda tentang Kaisar China bernama Shen Nung pada 2737 SM yang kebetulan meminum air teh rebusan yang terjatuh tak sengaja di halaman belakang istananya. Air bercampur daun teh itu, ternyata menyegarkan dan menyehatkan. Sejak itu, jadilah teh sebagai minuman berwibawa di berbagai belahan dunia.
      Tradisi minum teh ternyata juga menular dalam kehidupan berbagai kerajaan di negeri ini. Kerajaan Mataram di Jawa, misalnya menjadikan minum teh sebagai tradisi kebesaran dalam berbagai perjamuan para raja. Tradisi itu, hingga kini masih ada dan bisa ditelusuri dalam kebiasaan Keraton Ngayogyakarta di Jogjakarta.
      Penelusuran terhadap tradisi itu, menjadi salah satu topik menarik perjalananku awal Desember 2013 lalu. Bersama dua kawan lainnya, kami memperkaya khasanah dengan mengobok-obok sejumlah lokasi wisata sejarah di Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY). Mulai dari Keraton Ngayogayakarta, Candi Borobudur, Prambanan, Mendut hingga ke pantai Parang Tritis. Semua wilayah itu, dikenal memiliki daya magis luar biasa.
      Memasuki keraton, Kami ditemani seorang guide bernama Yuliani. Mengitari sejumlah bangunan, didapat keterangan tentang berbagai bangunan yang ada di komplek itu. Misalnya, bangsal pagelaran (Tratag Rambat),  Bangsal Pemandengan  digunakan sebagai tempat duduk sultan bersama pejabat menyaksikan latihan-latihan perang prajuritnya. Ada pula Bangsal Kencana yang merupakan bangunan pusat keraton, serta Gedhong Jene tempat tinggal resmi Sri Sultan Hamengkubuwono X, atau  sejumlah bangunan khusus lainnya.
      Salah satu bangunan yang menarik perhatianku, adalah gedung patehan. Berbeda dengan gedung kepatihan, yakni ruangan pembesar kesultanan, gedung patehan sederhana jika dibanding bangunan lainnya. Bangunan ini berdampingan dengan bangunan megah disebelahnya yang dikenal sebagai ruang perbendaharaan sultan (Gedung Danartapura). Di dalam ruang patehan itulah, diproduksi teh kebesaran untuk perjamuan para undangan kraton.  
      Tak cuma gedung patehan itu saja, berbentuk batang huruf L tegak,  didepan gedung patehan ada juga ruangan yang disebut ‘sarang boyo.’ Berbeda dari ruangan patehan, sarang boyo merupakan ruang olahan minuman keras yang memabukkan. Minuman keras juga jadi sajian untuk tamu non muslim, khsusunya orang Barat. “Itu ruangan khusus mengolah minuman keras. Karena agama sultan seorang muslim, maka ruangan itu disebut ‘sarang boyo’, artinya tempat berbahaya,” ujar guide kami.
      Meski gedung patehan dan gedung sarang boyo, fungsinya memberikan perjamuan minuman, tapi sifatnya berbeda. Saat ini gedung sarang boyo tidak lagi digunakan. Sedangkan gedung patehan masih terus menjalankan perannya.
      Ruang patehan terkesan sederhana, karena memang bangunan itu hanya tempat memproses minuman teh sebelum dihidangkan kepada sultan. Hanya ada beberapa kamar. Yang pertama ruang sultan minum.  Di kamar ini ada satu kursi serta beberapa lemarin penyimpanan gelas.  Ruangan ini hanya dipakai Amangkurat VIII yang memang suka minum di ruang patehan setiap sore. Sedangkan para sultan lain, minumannya diantar ke ruangan mereka tiga kali sehari, yakni pagi, siang dan sore.
      Kemudian, ada ruangan penyimpanan saringan teh dari masa ke masa. Jenis saringan teh ini beragam dari lintasan zaman. Mulai dari kentongan berbentuk bejana dari tanah hingga saringan teh berasal dari berabagai negara, yakni Inggris, Belanda hingga Jerman. Ada pula ruangan paling belakang, yakni dapur patehan tempat para abdi dalem mengaso menunggu waktu pembuatan dan menghidangkan teh.
Tentang perilaku minum teh para sultan dan keluarganya, ada kisah-kisah menarik. Moro Seno, 70, abdi dalem yang sudah puluhan tahun mengabdi di gedung patehan mengungkapkan, pembuatan teh sultan tak bisa dilakukan sembarangan.
      Ketika teh di buat, dipastikan tak langsung disuguhkan kepada sultan, tapi didahului oleh penguji rasa teh, apakah sudah sesuai atau tidak. “Pernah ada kasus, sultan tidak meminum suguhan, karena rasanya berbeda,” ujar Moro Seno. Karena itu, penguji rasa/kualitas teh sangat diperlukan di gedung patihan itu. Disamping para petugas yang telah hapal dengan tugas masing-masing. Tak mengherankan jika ruang patehan dipenuhi abdi dalem jompo dengan tugas khusus itu.
      Kraton Jogjakarta saat ini, telah memiliki kemampuan melakukan usaha bisnis memenuhi keutuhan intern kraton. Misalnya, usai menapak tilasi komplek keraton, maka guide akan menawarkan pengunjung untuk singgah di plaza milik keraton di gedung lain.  Plaza kraton ini menjual berbagai jenis produk sandang dengan harga terjangkau. Pakaian batik, misalnya merupakan jenis batik khas dengan corak khusus produk kraton. Harganya juga terjangkau, mulai dari harga terendah Rp60 ribu/potong hingga mencapai Rp1 juta/potong.
      Puas berada di plaza kraton, keluar dari sana langsung disambut rumah makan kraton. Guide kami mengatakan para pembesar bahkan sultan tak jarang makan di ruangan ini. “Sekarang ruangan makan ini sudah dibuka untuk umum, pengunjung bisa datang dan makan/minum di sini,” terang wanita paruh baya ini. Pengunjung dipersilahkan makan dengan model prasmanan alias ala Prancis, dengan mengambil sendiri menu yang diinginkan. Lalu membayar harga dari makanan/minuman itu.
      Dalam kesempatan sama, Kami juga menikmati beberapa ruangan di sejumlah gedung. Misalnya, melihat ruangan penyimpanan benda-benda bersejarah kesultanan. Atau tempat pembuatan pakaian resmi kesultanan, serta pembuatan corak batik khas Jogjakarta.
      Penasaran dengan keindahan pantai Parang Tritis di waktu senja yang katanya penuh nuansa mistis, Kami juga menyempatkan waktu ke sana. Suasana sunsetnya memang membuat bulu kuduk meremang, karena kondisinya mampu menyihir pandangan dan perasaan.

Misteri Borobudur Hingga Prambanan

      Sehari sebelumya, rasa penasaran terhadap situs sejarah yang jadi world heritage, yakni Candi Borobudur, Prambanan dan Mendut, menuntun Kami menyatroni situs-situs peninggalan nenek moyang bangsa itu. Rasa penasaran itu, berasal dari sebuah buku karya Kyai Fahmi Basya berjudul ‘Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman?’ (2013).
      Dalam buku itu diungkapkan betapa struktur bangunan Candi Borobudur yang diakui arkeolog Barat dibangun masa Dinasti Syailendra pada Abad VII itu, cocok dengan struktur ayat-ayat dalam kitab suci Al Qur’an. Kyai Fahmi Basya, yakin betul Borobudur tidak dibangun pada Abad VII oleh penguasa Hindu/Buddha itu, tapi peninggalan Raja Solomon (Nabi Sulaiman AS), hidup 989-991 SM, dari masa 3.000 tahun lalu. Bahkan, cerita tentang Candi Prambanan dan Mendut juga berkaitan dengan perjalanan Raja Bani Israel itu ke Jawa.
      Fakta dan data yang diungkapkan pakar matematika Islam itu memang mencengangkan, meski di sana sini banyak hal membutuhkan pertanyaan kritis. Tapi, kegusaran atas fakta yang diungkapkan itu menyegerakan Aku dan rekan menuju situs purbakala itu.
      Dari hotel sederhana di kawasan Pathuk, Jogjakarta, Kami memulai perjalanan sejauh 25 Km ke arah Kab. Sleman. Dalam masa tempuh sekira 45 menit itu, Aku menghubungkan kata ‘Sleman’ dengan Sulaiman yang rada mirip. Dosen UIN Jakarta itu, mengatakan salah satu tanda Nabi Sulaiman AS pernah ke Jawa, adalah nama Sleman, selain nama Wonosobo atau Wanasaba (dua hutan) sebagai tanda Negeri Saba’ yang diungkap dalam Al Qur’an.
      Ketika menjejakkan kaki di kawasan Borobudur itu, ketakjuban memang datang dalam pikiran. Betapa tidak, selaksa pertanyaan muncul dalam benak ini. Misalnya, bagaimana bisa manusia di masa itu dengan alat-alat sederhana bisa melahirkan maha karya seagung Borobudur. Bahkan, untuk satu batu saja, membutuhkan alat angkut dan dongkrak yang rumit, karena berat satu potong batu Borobudur, agaknya mencapai 1 ton. Belum lagi menyusun batu-batu itu secara terstruktur dan sistematis, membentuk sebuah bangunan dengan ketinggian puluhan meter.
      Belum lagi struktur pahatan di dinding batu bersusun itu, seolah mengabarkan betapa ketrampilan itu belum dimiliki manusia kala itu, tapi oleh makhluk lain. Coba bayangkan, relief di dinding batu bersusun Borobudur itu, tertata secara runtut menceritakan satu episode kisah yang pernah dialami satu generasi manusia di masa lalu. Laporan dari relief itu begitu mempesona, karena dipahat dengan ketrampilan tinggi yang tak sembarang orang menguasainya. Melalui sejumlah teras, relief itu mengisahkan banyak hal seakan mereportase berbagai peradaban yang ada sebelum candi itu dibangun.
      Jika reportase yang terlihat itu lengkap, apakah manusia kala itu memiliki perpustakaan yang lengkap sehingga bisa merekam kejadian dari masa ke masa, kemudian memahatnya secara indah? Pertanyaan itu menggayuti pikiranku. Sebuah pekerjaan super yang secara logis membutuhkan penelitian lebih jauh. Maka, Aku ragu apakah memang para pemahat Dinasti Syailendra yang membuatnya, kala di abad sama di Pulau Sumatera, komunitas Muslim baru menjejakkan kakinya di Barus.
      Hal lain yang menjadi misteri di Candi Borobudur, adalah stupa di atas candi berjumlah 19 unit. Di mana salah satu stupa itu kosong, sedangkan 18 stupa lainnya berisi patung. Apakah mungkin dalam pembuatannya, para arsitek candi itu sengaja mengosongkan, atau terlupakan dalam mengisinya. Tentu saja pengosongan salah satu stupa itu jadi misteri abadi yang sulit untuk menjawabnya. Banyak hal yang menimbulkan pertanyaan dari pisik Borobudur, sehingga bagi mereka yang berakal, candi itu memberikan banyak ibrah (pelajaran) kepada pengunjungnya.
      Candi Prambanan, secara pisik juga mengundang keheranan luar biasa kepada mereka yang mau memikirkannya. Kumpulan candi itu, merupakan sebuah komplek percandian yang dikenal sebagai Candi Loro Jonggrang.  Para sejarahwan dan arkeolog Barat, meyakini candi ini dibangun sekira Abad IX oleh Dinasti Sanjaya. Artinya, baru dibangun 2 abad sesudah pembangunan Borobudur. Petunjuknya hanya satu saja, di candi itu ada kata ‘Pikatan’ yang diyakini sebagai Rakay Pikatan, sebagai penguasa wilayah kala itu.
Dari sejumlah keterangan, Candi Prambanan terdiri atas tiga pelataran yang semua diisi candi  sudah dipugar dan yang belum dipugar. Diperkirakan, jika seluruhnya sudah dipugar, akan ada sekira 224 unit candi. Semua candi itu luas dan tingginya sama, yakni luas dasar 6 meter dan tinggi 14 meter. Pada latar paling atas, terdapat 16 candi yang sudah dipugar sekira 1982 lalu. Candi itu, masing-masing Candi Siwa, Candi Wishnu, Candi Brahma. Berikutnya, Candi Nandi, Angsa, Garuda. Kemudian ada juga candi Apit, Kelir dan Sudut serta sejumlah candi kecil-kecil lainnya.
Sedangkan candi disekitar Prambanan, yakni Candi Plaosan, Sojiwan, Boko, Banyunibo, Sari, Banyunibo, Kalasan, dan Sambisari.
      Aku hanya menikmati sensasi candi induk di komplek Prambanan, yakni Siwa, Wishnu, Brahma, juga beberapa candi lain, yakni Candi Garuda, Angsa dan Ganesha. Pada candi terakhir puncak candi tergeletak di tanah dan tak diperbaiki. Kondisi itu dibiarkan sebagai peringatan kejadian gempa yang merusak sebagian candi di komplek itu, beberapa tahun lalu.
      Terakhir, aku menyempatkan melihat dan masuk ke Candi Mendut. Candi ini hanya menyendiri. Hingga kini, keberadaan patung di dalam candi Mendut masih digunakan sebagai sesembahan oleh penganut Hindu/Buddha. Satu hal dari kunjungan itu, aku mulai memahami sebuah teori betapa masing-masing agama, punya benang biru yang berhubungan satu dengan lainnya. Namun, tetaplah Islam menjadi agama terakhir dari seluruh rangkaian historisitas agama-agama itu.A. Khalik

Post a Comment for "Kisah Secangkir Teh Di Kraton Ngayogjakarta"