Agama Sikh, Telah Ada Di T.Tinggi Sejak 1916

           
 AGAKNYA, tak banyak warga Kota Tebingtinggi yang tahu tentang agama Sikh. Keyakinan sinkretik antara Islam, Kristen, Buddha dan Hindu berasal dari Punyab, India itu, ternyata berdasarkan keberadaan rumah ibadahnya, telah ada di kota lintasan itu sejak 1916. Sikh Gurdwara, di Jalan Imam Bonjol, Kel. Satria, Kec. Padang Hilir, menjadi bukti keberadaan penganut Sikh yang hingga kini ajarannya tetap terjaga secara turun temurun.
                                          
            Saat ini, total penganut Sikh yang beribadah di Sikh Gurdwara Kota Tebingtinggi sekira 200 orang atau 50 kepala keluarga. Mereka tidak hanya bermukim di Tebingtinggi, tapi menyebar, dari Perbaungan dan Lubuk Pakam. Pada saat-saat tertentu, penganut Sikh akan berkumpul di Kota Tebingtinggi untuk beribadah dan  melakukan silaturrahmi antar sesama.

            Umat Sikh bergabung dalam ‘Yayasan Sosial Kaum Sikh Shree Guru Granth Sahib Darbar Gurdwara Parbandhak Committee’ yang memiliki pengurus lengkap serta seorang pendeta (Bhai). Menurut Bhai Dalip Singh Sosan, saat ini jumlah gurdwara di Sumut mencapai delapan unit. Masing-masing empat di Medan, satu di Tebingtinggi, satu di Binjai, satu Pematang Siantar dan satu di Kisaran. Namun, dua di antara gurdwara itu tidak lagi berfungsi, karena umatnya sudah tidak ada, karena pindah (urban). “Maklum saja, mereka juga ingin mencari kehidupan lebih baik, jadi mereka pindah dari sana,” ujar Bhai itu.

             Pertapakaan Sikh Gurdwara yang ada di kota Tebingtinggi, menurut pengakuan Wakil Ketua Yayasan Sosial Kaum Sikh Hari Singh Lalpur, dalam suatu perbincangan, merupakan wakaf seorang muslim. “Lahan gurdwara ini pemberian (hibah) seorang haji,” ujar Hari Singh. Awalnya rawa-rawa, kemudian ditimbun dan dibangun secara gotong royong oleh warga Sikh yang ada di wilayah Kerajaan Padang Tebingtinggi.

            Kala itu, terang Hari Singh, banyak warga India penganut agama Sikh yang bekerja sebagai buruh di berbagai perkebunan sekitar Tebingtinggi. Mereka direkrut oleh perkebunan, terutama pengusaha Inggris, Belgia dan Belanda untuk bekerja. Misalnya di perkebunan Pabatu, Bahilang, Tanah Besih, Sibulan dan Bangun Bandar. Jumlah mereka mencapai ratusan orang. Umumnya, berasal dari berbagai negara bagian India, misalnya Punyab dan Malabar, tapi ada juga yang berasal dari Penang dan Singapura.

Warga India itu, tidak hanya beragama Sikh, tapi ada juga Hindu, Islam dan Ahmadiyah. Tidak mengherankan, jika ada situs peninggalan mereka di Kota Tebingtinggi yang kini masih terjaga. Misalnya, penganut Islam memiliki Masjid Al Mukhlis (Masjid Keling) di Jalan A. Yani, Kel. Pasar Baru, Kec. T.Tinggi Kota. Juga Masjid At Thahir di Jalan Batubara, Kel. T.Tinggi Lama, Kec. T.Tinggi Kota bagi penganut Ahmadiyah. Bahkan, ada perkampungan India dikenal sebagai Kampung Keling (saat ini masuk dalam wilayah Kel. Tanjung Marulak, Kec. Rambutan).

Tak cuma bangunan, warga India juga memiliki areal pemakaman sendiri berada di Kampung Nenas, Kel. Pasar Gambir, Kec. T.Tinggi Kota. Areal pemakaman itu digunakan warga Hindu dan Sikh. Ada puluhan warga India yang dikebumikan di pekuburan itu. Sedangkan warga Sikh menjadikan areal itu tempat kremasi (pembakaran) jenazah. Namun, saat ini warga Sikh resah, karena beberapa bagian pemakaman itu diserobot pendatang. Hari Singh dari beberapa sesepuh agama Sikh mengatakan kiranya Pemko Tebingtinggi peduli terhadapkomplek pemakaman mereka, sebagai aset sejarah. “Kami khawatir lahan itu akan hilang nantinya,” keluh dia.

Terkait ajaran agama Sikh, Hari Singh Lalpur, mengatakan agama ini dibawa oleh Guru Nanak Dev Ji (1469-1539). Selanjutnya dikembangkan oleh 10 guru sesudahnya, yakni Guru Angad Dev (1504-1552), Guru Amar Das (1479-1574), Guru Ram Das (1534-1581), Guru Arjan Dev (1563-1606), Guru Har Gobind (1595-1644), Guru Har Rai (1630-1661), Guru Har Krishan (1656-1664), Guru Tegh Bahadur (1621-1675). Guru terakhir agama Sikh adalah Gobind Singh (1666-1708). “Agama Sikh menyebut pembawa agama ini guru dan bukan nabi,” terang Hari Singh Lalpur. Sesudah guru terakhir, tidak ada lagi guru bagi kaum Sikh hingga hari kiamat,” tegas Bhai Dalip Singh Sosan.

Kitab suci agama ini diberi nama Shree Guru Grant Sahib Ji. Bangunan suci agama Sikh bernama Kuil Mas (Golden Temple) terletak di kota Amritsar, Punyab, India. Total penganut agama Sikh di Indonesia mencapai 80 ribu orang. Umumnya, merupakan suku bangsa Punyab, namun ada warga Indonesia keturunan Batak, Karo, Simalungun dan Jawa yang juga menganut Sikh.

Konsep Ketuhanan dalam agama Sikh, menurut Hari Singh Lalpur, bahwa zat maha itu, tidak memiliki nama khusus. “Karena zat itu menempati segala situasi, kondisi, ruang dan waktu. Jadi Sikh mengakui semua penyebutan zat maha itu, apakah Allah, Yahweh, Ram, Brahma dan lain-lain,” terang Hari Singh. Prinsipnya Sikh menganut monotheisme.

Namun, dalam konsep kematian agama Sikh masih menerima konsep reinkarnasi keyakinan Hindu. Artinya, penganut Sikh memungkin kembali ke dunia, jika dosannya banyak. “Dalam kitab suci disebutkan, 10 diberikan kepada manusia, tapi hanya satu diminta (jaga hati) itu pun tak bisa dipertahankan,” ujar Hari Singh. Jika sudah demikian, dia harus hidup kembali untuk menjadi baik.

Sedangkan inti ajaran Sikh, terpusat pada manusia. Awalnya manusia harus mengenal kelemahan dirinya, kemudian kelebihan diri. Setelah melakukan pengenalan diri, maka manusia harus berusaha mencapai derajat tertinggi kemanusiaan menyatu dengan zat maha.

Tata cara peribadahan agama Sikh, dimulai dengan membaca kitab suci, selanjutnya berdoa dan ditutup dengan memakan kue suci disebut varshad. Varshad, merupakan manisan gabungan inti susu, inti tepung dan inti gula. Umat Sikh, umumnya merupakan vegetarian. “Kami makan ikan teri saja tidak boleh,” ujar Mami, kepala juru masak di Gurdwara Tebingtinggi.A. Khalik

30 January 2015
Posted by abdul Khalik
Tag :

Masjid Keling T.Tinggi, Berusia Hampir Seabad Dipugar Lagi

ADA SALAH satu masjid tua di kota Tebingtinggi yang sering luput dari perhatian masyarakat, terutama sejarah keberadaan masjid itu. Masjid itu dulunya merupakan rumah ibadah atau pura umat Hindu. Dibangun oleh warga India yang dulu bekerja sebagai buruh kontrak di berbagai perkebunan sekitar Tebingtinggi.

Diperkirakan pembangunan pura Hindu itu seusia dengan rumah ibadah Sikh, yakni Sikh Gurdwara yang terletak di Jalan Imam Bonjol, sekira 1916. Pura Hindu itu, tepat berada di persimpangan tiga antara Jalan A. Yani dengan Jalan Sakti Lubis. Umat Islam dulunya menamakan rumah ibadah yang belakangan diberikan kepada warga Islam keturunan Malabar itu dengan nama ‘Masjid Keling.’

Wakil Walikota Tebingtinggi H Irham Taufik SH didampingi Wakapolres Tebingtinggi Kompol Zahrie, Ketua Kadin HM Daniel Sultan SE dan Kakan Kemenag Kota Tebingtinggi Drs HM Hasbie melakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al-Mukhlis, Jumat (7/3/2013) di Jalan Ahmad Yani Kelurahan Pasar Baru Kecamatan Tebingtinggi Kota.

Acara peletakan batu pertama Masjid Al-Mukhlis atau yang lebih dikenal dengan ‘Mesjid Keling’ itu berlangsung cukup sederhana namun penuh khidmat diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran oleh Al Ustadz Drs Zulkarnain (Kepala KUA Kecamatan Rambutan) serta penyampaian sejarah singkat seputar keberadaan Mesjid yang penuh histori oleh Ketua BKM Al Mukhlis Muhammad Iqbal dan Ketua Panitia Pembangunan Muhammad Abbas.

Disebutkan bahwa Mesjid Al Mukhlis yang usianya hampir satu abad itu pertama kali diwakafkan tahun 1920 dari Bapak Kuti Kaka kepada warga Indonesia keturunan India Muslim untuk tampt ibadah umat Islam India. Belakangan, disponsori oleh ‘Kapitan Keling’ masjid itu kemudian dibuka untuk dipergunakan seluruh masyarakat dan jemaah warga sekitarnya. Bentk masjid itu pertama kali, hanya bangunan dengan satu ruang mihrab. Bangunan itu kemudian bertahan hingga 1950.

“Pada tahun 1950 mesjid yang biasa disebut dengan panggilan Mesjid Keling ini secara resmi menjadi ‘Mesjid Al Mukhlis’ dan dipugar oleh Muhammad Bava yang duduk sebagai nazir beserta warga keturunan India Muslim dan Arab, sedangkan Lurah Rahmad waktu itu merangkap sebagai Imam mesjid”, papar M. Iqbal, anak dari Muhammad Bava. Selanjutnya, pada tahun 1980, masjid itu kembali mengalami renovasi, di mana bangunan awal ditambah dengan teras masjid dan kamar mandi.

Komplek Masjid Keling sebenarnya memiliki lahan luas, terdiri atas masjid dan dua bangunan rumah toko yang disewakan sebagai tempat usaha. Belakangan untuk perluasan masjid, lahan itu dipergunakan dengan memberikan dana tali asih kepada warga yang selama ini menempati bangunan di sebelah masjid.

Ditambahkan Ketua Panitia Pembangunan Mesjid Al Mukhlis Muhammad Abbas, bahwa pelaksanaan renovasi total pembangunan mesjid diatas areal lahan seluas 310 meter persegi itu rencananya akan menghabiskan dana sekitar Rp 1,5 miliar yang diharapkan berasal dari para donator kaum muslimin dan muslimat serta para pengusaha India Muslim dan Arab. “Untuk dana awal telah terkumpul sekitar Rp 350 juta, Insya Allah pembangunannya akan berjalan lancar”, ujar Abbas, pengusaha Restoran India di kota Tebingtinggi.

Sebelumnya, Wakil Walikota Tebingtinggi H Irham Taufik mengatakan, Pemko Tebingtinggi sangat mendukung pembangunan Mesjid Al Mukhlis dalam meningkatkan keimanan dan ketaqwaan masyarakat. “Usai pembangunan nanti diharapkan program mengaji usai sholat maghrib yang merupakan program Walikota Tebingtinggi diaktifkan kembali karena sangat bermanfaat bagi anak muda dan generasi penerus kita”, katanya.

Irham Taufik juga berharap agar pembangunan mesjid nantinya juga dibarengi dengan membangun rohani kaum muslimin, “Usai pembangunan nanti, mari kita makmurkan mesjid ini, jangan hanya imam muazin dan makmum saja yang sholat didalamnya. Jangan mesjid cantik tapi sunyi dari jemaah”, pesan Irham Taufik.

Dari pantauan, pembangunan masjid ini hingga Januari 2015 sudah berlangsung sekira 70 persen. Bangunan dengan dua lantai itu, diharapkan akan selesai pada kahir 2015. Di mana lantai atas akan digunakan sebagai tempat ibadah. Sedangkan ruang bawah akan menjadi tempat pendidikan dan syiar Islam serta pelatarannya akan menjadi areal parkir. Bagi masyarakat yang ingin berinfak dipersilahkan untuk menyampaikannya ke pelaksana di sekretaiar Restoran India Jalan A. Yani, Kel. Pasar Baru, Kota Tebingtinggi. A. Khalik

Posted by abdul Khalik
Tag :

Pemangku Kerajaan Negeri Padang Bicarakan Nasib Stadion Kp. Durian

           
PEMANGKU adat Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi melakukan pembicaraan dengan sejumlah kalangan sepuh terkat dengan keberadaan stadion Kampung Durian. Pembicaraan itu dilakukan terkait banyak klaim kepemilikan terhadap lahan lapangan sepak bola itu belakangan ini. Beberapa kalangan sepuh yang diundang berbicara, diantaranya Rusman Saleh, Aswad Asmara, Mahiddin Syafii dan H. OK Agahansyah.

Menurut juru bicara pemangku adat Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi Datuk Khuzamri Amar, SE, didampingi Datuk Azrai Hasan Miraza, serta beberapa pemangku adat lainnya, Selasa (27/1), pembicaraan itu untuk mengetahui sejauh mana keberadaan stadion bola itu. “Ini kita lakukan salah satunya dalam rangka mendata situs-situs Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi,” ujar Amar.

Ditambahkan, stadion Kampung Durian, sejak dulu merupakan situs penting Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi yang dibangun oleh Tengku Alamsyah yang menjadi wazir Negeri Padang sekira 1930. Sayangnya, ujar BKM Masjid Raya Nur Addin itu, hingga kini belum jelas bagaimana status lapangan sepak bola itu, sehingga Pemko Tebingtinggi tidak berani memanfaatkannya. “Malah kita mendengar ada pula oknum-oknum tertentu yang ingin menjual lahan itu, padahal semua tahu lahan itu milik publik,” tegas Khuzamri Amar.

Datuk Azrai Hasan Miraza menambahkan, hasil pertemuan dengan keempat sesepuh Melayu dan sesepuh kota Tebingtinggi itu, sepakat keberadaan stadion Kampung Durian itu harus dipertahankan sebagai lapangan sepak bola. “H. OK Agahansyah, Aswad Asmara dan Rusman Saleh yang paham status stadion, menyatakan sepakat lahan itu tetap jadi lapangan sepak bola,” terang Azrai. Tinggal lagi bagaimana Wali Kota Tebingtinggi dalam hal ini Disporabudpar menyikapi kehendak ini, tambah Azrai.

Diakui, kalangan sesepuh itu kecewa karena selama ini ada upaya kalangan tertentu yang hendak menjual lapangan, meski alas haknya tak jelas. “Banyak yang mendekati kita mengajak kerjasama menjual lapangan itu, tapi saya tolak. Saya ingin lapamgan itu tetap seperti semula,” aku H. OK Agahansyah,  cucu dari OK Aliviah, saat bertemu di kediamannya, kemarin.

Selain itu, Khuzamri Amar, SE, mengungkapkan pula hasil temuan dari pendataan situs-situs Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi, berupa makam Marah Hakum gelar Panglima Goraha (1830-1870), Raja ke VIII Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi. “Makam itu menjadi penemuan besar untuk mengungkap masa lalu Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi,” cetus Amar. Sebelumnya, sudah pula ditemukan makam Raja Tebing Pengeran, di Kec. Bandar Khalifah, Kab. Sergai.

Seluruh situs-situs yang kita temukan, kata Amar, nantinya kita harapkan akan menjadi bukti sejarah khasanah Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi. “Kita juga akan mengajukan situs-situs itu sebagai cagar budaya ke Pemko Tebingtinggi sesuai UU No.11/2010 tentang Cagar Budaya,” tandas Amar.  Khalik


27 January 2015
Posted by abdul Khalik
Tag :

Mangrove; Kita Menghancurkannya, UEA Mengistimewakannya

ADA CERITA. Sekira 1979 Emir pertama Uni Emirat Arab (UEA) Syeikh Zayed Sulthan An Nahyan melakukan kunjungan ke Indonesia. Dalam kunjungan itu, pemimpin yang membawahi lima keemiran itu, terkagum-kagum akan kesuburan tanah dan aneka tanaman yang ada di bumi khatulistiwa itu. Terutama tanaman pinggiran pantai dan dataran rendah.
 Syekh Zayed berpikir untuk menanam aneka tumbuhan itu di negerinya. Tapi, apa mungkin karena tanah negeri  di tepian Teluk Parsi itu, hanya  gurun pasir gersang  dengan tanaman tertentu saja yang bisa tumbuh. Tindakan besar pun di ambil pemimpin visioner itu. Mengambil tanah Indonesia  untuk jadi media tumbuhannya, sekaligus tanaman di atasnya.
Orang tua dari pemimpin UEA sekarang Syekh Muhammad bin Zayed itu, membawa beberapa jenis tanaman pantai, ke negerinya. Bersama rakyatnya, tanaman eksport dari Indonesia itu, ditanam dengan perlakuan istimewa di tanah gurun pinggiran pantai, dibawah pengawasan para ahli botani.
Awalnya, penanaman itu kurang berhasil. Namun, pemerintah UEA bersama rakyatnya terus melakukan berbagai eksplorasi atas tanaman pantai itu. Kini, setelah 30 tahun lebih, tanaman pantai itu dapat tumbuh subur di seantero UEA.
Anda tentu ingat dengan jenis pohon mangrove (bakau), ketapang dan nyamplung serta jeruju dan tekik, untuk mengatakan beberapa tanaman pantai . Saat ini, semua tanaman itu terlihat di berbagai areal pemukiman Dubai dan Abu Dhabi, bahkan di Al Ain dan dua daerah keemiran lainnya yang berada dibawah keemiran UEA. Tanaman itu, tumbuh subur berdampingan dengan pohon kurma, tanaman khas padang pasir.
Contohnya, sepanjang perjalanan bersama rombongan Waspada dari Dubai ke Abu Dhabi berjarak sekira 100 km, terlihat pinggiran jalan diisi oleh hutan tanaman pantai itu. Bahkan, berbagai jenis bunga-bungaan, semisaln bougenville (bunga kertas) menjadi tanaman di berbagai taman kota.
Penulis sempat terkesima, ketika melihat salah satu tanaman obat-obatan khas Indonesia yang penulis lupa namanya, dapat perlakuan istimewa dari warga UEA. “Di tempat kita cuma rumput, tapi di sini sangat bernilai,” ujar rekan Hotma Darwis Pasaribu, saat ditunjukkan kepadanya jenis rerumputan itu.
Bahkan, kesemua tumbuhan hutan pantai itu, jadi tanaman hias yang menyejukkan mata para wisatawan yang berkunjung ke negeri itu. Masjid terbesar di UEA, yakni Masjid  Syekh Zayed An Nahyan, misalnya mengisi halamannya yang luas dengan aneka tanaman penahan abrasi itu. Terlihat, tanaman mangrove, ketapang dan nyamplung serta jeruju, mengelilingi salah satu mesjid terbesar di dunia itu. Juga rumput tekik, melingkar di antara pepohonan yang didesain sedemiikian rupa.
            Aneka tanaman yang berfungsi sebagai penahan abrasi itu, tidak hanya tumbuh subur di halaman masjid berjarak sekira 2 km dari bibir pantai. Tapi juga menjadi tanaman pelindung berbagai bangunan perkantoran hingga di pabrik perusahaan-perusahaan kelas dunia. Terlihat pula, di halaman berbagai perumahan mewah di inti kota dipenuhi tumbuhan Nusantara.
Selain  sebagai penahan abrasi, mangrove dan tumbuhan pantai, juga menjadi tempat berkembang biaknya biota laut semisal kepiting, kerang dan jenis aneka ikan air payau. Saat ini fungsi hutan pantai  itu juga, mulai dimanfaatkan pemerintah UEA, dengan mulai menanamnya di sepanjang pantai negeri itu. Diperkirakan, dalam 15 tahun ke depan, jika proyek penanaman hutan mangrove berhasil, rakyat UEA bisa menikmati kepiting, kerang dan ikan air payau dari negerinya sendiri.
Berbeda dengan negeri  kita. Tanaman pantai itu, saat ini keberadaannya hampir punah, terutama di pinggiran pantai timur Sumatera Utara, akibat perambahan yang berlangsung massif.  Tapian pantai kita semakin gundul dan mengalami abrasi. Tak jarang, perambahan mangrove dan tanaman jenis lainnya menimbulkan konflik. Misalnya, yang terbaru terjadi di Kab. Serdang Bedagai dan di Langkat.
Mangrove dan sejenisnya yang punah itu, berganti dengan perkebunan sawit atau tambak dan berakibat ruang pantai jadi terbuka. Dari kondisi demikian,  pesisir pantai menjadi daerah paling rentan, terkena bencana laut,  mulai dari abrasi, angin kencang dan kehilangan biota pantai dan air payau alami. Angin puting beliung yang dulunya jarang terjadi, kini kehadirannya sudah bagaikan ‘hantu’ di siang bolong. Kehadiran angin puting beliung, diperkirakan akibat wilayah pantai kita yang kian terbuka karena punahnya hutan pantai.  
Nelayan kita juga, sejak lama telah merasakan dampak kehilangan hutan pantai itu, berupa semakin sulitnya mencari penghidupan, karena sumber daya pantai kian menipis. Ujung-ujungnya, konflik antar sesama nelayan kian intens terjadi.
Sempat jadi bahan diskusi penulis bersama Pemred Waspada H Prabudi Said, bagaimana tanaman hutan pinggiran pantai itu bisa tumbuh subur di UEA sedangkan di Indonesia, tanaman itu bagaikan disengaja untuk memusnahkannya. Apakh ada invicible hand (tangan-tangan tak kelihatan) yang sengaja melakukan tindakan demikian?
Ketahuilah, Allah SWT memang memberikan ‘sepotong surga’ untuk negeri kita. Tapi jika nikmat itu tak dipelihara dan disukuri, yakinlah kita hanya akan menuai bencana dari ketidak pedulian dan keserakahan kita. Nasib mangrove dan tanaman pantai lainnya, bisa jadi bahan renungan tentang keteledoran kita akan kekayaan alam. Wallahu a’alamu bi as shawab. Abdul  Khalik


26 January 2015
Posted by abdul Khalik
Tag :

Mengenal Thariqat Sattariyah Syekh Burhanuddin Ulakan di T.Tinggi

MASJID Al Ikhlas di Link. 01, Kel. Tanjung Marulak, Kec. Rambutan, lokasinya agak tersuruk dari Jalan Ikhlas yang menghubungkan Jalan Sudirman dengan Jalan Ir.H. Juanda kota Tebingtinggi. Persis di belakang komplek PLN Ranting Tebingtinggi, beberap puluh meter mengikuti lintasan alternatif itu, kita akan menemukan sebuah plang kecil bertuliskan ‘Masjid Al Ikhlas Thariqat Sattariyah Perguruan Syekh Burhanuddin Ulakan,’ di sisi kiri jalan.
Memasuki gang kecil sejauh 70 meter, akan terlihat dari kejauhan, satu unit bangunan masjid berornamen masjid-masjid di Padang Pariaman, Sumatera Barat. Masjid itu, hanya berukuran sekira 10 x 10 meter dengan pagar tinggi. Sepintas, kesannya masjid itu berusia tua, karena penataannya terlihat sederhana. Disamping masjid, ada bangunan dua tingkat, sebagai tempat belajar thariqat.
Ornamen paling mencolok dari masjid itu, adalah kubahnya yang lain dari umumnya masjid-masjid di Sumatera Timur. Kubahnya berbentuk segi empat melebar ke bawah dan bertingkat. Di puncak kubah segi empat itu, menjulang garis lurus berbentuk huruf ‘alif’ yang bertingkat-tingkat pula. Di puncak kubah itu ada simbol bulan sabit dan bintang. Masjid dan bangunan itu, saat ini menjadi pusat persulukan Thariqat Sattariyah Syekh Burhanuddin Ulakan.
Tuanku Syekh Datuk Panyalai, 85, (foto) dikenal sebagai pendiri thariqat itu di Sumatera Utara dan Riau, berpusat di kota Tebingtinggi. Masjid dan tempat khalwat para murid thariqat itu, didirikan 1988 dibantu murid-muridnya. Hingga kini, bangunan itu sudah mengalami beberapa kali renovasi, namun tak berubah dari bentuk aslinya, mengikuti ornamen masjid-masjid ‘urang Minang.’
Saat berkunjung ke masjid Al Ikhlas, baru-baru ini, sekira pukul 13.00, suasana masjid itu terlihat lengang. Seorang warga yang kebetulan tempat bertanya, siapa nazir masjid itu, langsung menjawab ada disebelah. “Namanya Datuk Panyalai,” ujar warga tetangga masjid itu. Di keheningan masjid, hanya ada dua anak sedang bermain bulutangkis di halaman masjid serta dua remaja perempuan lagi duduk memperhatikan dua anak itu.
Menunggu beberapa saat, pemilik masjid dan pendiri thariqat itu pun bisa disambangi, usai beliau melaksanakan sholat Dzhuhur. Mengenakan kopiah, baju putih dan kain sarung,  pendiri thariqat yang memiliki ribuan murid itu, terkesan sederhana, wara dan sangat hati-hati dalam berbicara.
Datuk Panyalai, begitu murid-muridnya memanggil, merantau dari Pariaman ke Medan sekira 1951, menyusuri pantai timur sambil mengajar thariqat. Mulai dari Baganbatu, Aek Nabara, Rantau Prapat, Kisaran hingga ke Medan. Pada 1968, Datuk Penyalai mandah ke kota Tebingtinggi mencari penghidupan lebih baik, namun misinya menyebarkan ajaran thariqat Syekh Burhanuddin Ulakan, tak pernah surut.
Dengan sedikit modal dan bantuan dari murid-muridnya, pria yang memiliki 12 anak, 50 cucu dan 20 cicit itu, membeli lahan di tepian sungai Padang. Baru pada 1988, secara bergotong royong, jemaah thariqat itu membangun masjid sederhana dan tempat persulukan. Sejak itulah, masjid itu menjadi basis kegiatan penyebaran ajaran Islam berdasarkan thariqat yang ajarannya dinisbatkan kepada Saidina Ali Bin Abu Thalib RA itu.
Hingga kini, kata Datuk Panyalai, terdapat sejumlah masjid di berbagai daerah Sumut dan Riau yang menjadi tempat belajar thariqat Sattariyah. Yakni Bagan Batu, Aek Nabara, Rantauparapat, Kisaran, Tebingtinggi, Sei Rampah, Galang hingga Medan dan Sibolga. Muridnya-muridnya juga tidak hanya dari etnis Minang, tapi juga datang dari berbagai etnis lain, misalnya Jawa, Mandailing, Melayu dan etnis lain. “Orang Cina pun ada yang datang ke sini belajar,” ujar pria yang mangaku tak sekolah itu.
Thariqat Sattariyah, kini memiliki kepengurusan lengkap, terdiri dari murid-murid utama Datuk Panyalai. Organisasi itu bernama ‘Thariqat Sattariyah Perguruan Syekh Burhanuddin Ulakan.’ Susunan kepengurusan pusat organisasi ini hingga 2012, dipimpin Kholifah YD Bambang SK, Sekretaris Kholifah Irul, Bendahara Kholifah Nurhamida, dilengkapi sejumlah seksi-seksi. Sedangkan pengurus cabang tersebar di berbagai daerah.
Mengaitkan diri dengan ulama besar asal Pariaman Syekh Burhanuddin Ulakan (1649-1692), Datuk Panyalai, menyatakan thariqat yang diajarkannya memang berdasarkan ajaran-ajaran ulama murid Syekh Abdurrauf As Singkili itu. “Inti dari ajaran thariqat ini, bagaimana membersihkan hati,” ujar ulama sepuh yang jarang dikenal publik kota Tebingtinggi itu.
Menghormati ulama tasawuf asal Pariaman, Sumbar itu, jemaah thariqat Sattariyah dibawah bimbingan Datuk Panyalai, akan berziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan pada setiap bulan Safar. “Biasanya kami berombongan ke sana (makam Syekh Burhanuddin Ulakan di Pariaman), puluhan motor dari berbagai tempat,” ungkapnya.
Pada saat berziarah itulah, seluruh jemaah thariqat Sattariyah dari mancanegara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei, Filipina) akan tumplek di Surau Gadang, Pariaman. Saat berzikir, terang Datuk Panyalai, akan ditemukan beragam tata cara yang dilakukan. “Ada yang diam, ada yang keras-keras, bahkan menangis. Tapi itu semua cara mendekatkan diri kepada Allah,” jelas pria sepuh itu.
Berbeda dengan kebanyakan thariqat yang dikenal publik, dengan ciri-ciri menggunakan sorban atau baju-baju khusus, jemaah thariqat Sattariyah tidak menggunakan simbol-simbol tertentu. “Cukup saja menggunakan baju putih, kopiah dan kain sarung asalkan bersih dan suci sudah cukup,” terang syekh utama itu. Bagi Datuk Panyalai, simbol-simbol tidak terlalu penting, bahkan jika tak hati-hati akan cenderung mendatangkan sifat riya bagi orang yang menggunakan simbol-simbol itu.
Secara ringkas ajaran thariqat Sattariyah, kata Datuk Panyalai, sebagaimana ajaran thariqat lainnya, selalu memuat empat komponen ajaran, yakni syari’at, hakikat, thariqat dan makrifat. Hal yang paling utama itu adalah makrifat (mengenal Allah). Untuk sampai kepada makrifat, maka orang harus menjalani fase-fase yang ada. Namun, ditahap akhir itulah hal tersulit yang membutuhkan bimbingan dan pengajaran. “Bagaimana orang bisa ingat pada Allah padahal mereka tidak mengenal Allah?”
Manusia sekarang, tambah ulama wara’ ini, terus menerus lupa kepada Allah. Hal demikian wajar, karena memang kebanyakan dari mereka tidak mengenal Allah. Akibatnya, seluruh pekerjaan yang dilakukan selalu lepas dari hubungan kepada Allah. Jika pun ada, hubungan hanya sekedar basa basi yang hakikatnya tidak sampai. Proses mengenal Allah itulah yang diajarkan oleh thariqat, sehingga umat Islam tidak boleh mengabaikan ajaran-ajaran tasawuf. Apalagi sampai ada yang memandangnya sebagai ajaran sesat.
Thariqat Sattariyah, tegas Datuk Panyalai, menjadikan akal sebagai dasar utama dalam pengajaran tasawuf.  Pengajaran agama yang tidak bisa diterima akal, jelas tertolak. Pada saat bersamaan akal yang dibimbing hati yang bersih akan menemukan kebenaran yang hakiki. Akal dan hati yang bersih itulah alat memahami ajaran thariqat.
Dalam penetapan 1 Ramadhan yang belakangan ini cenderung berbeda, diakui  aliran thariqat Sattariyah memang menggunakan rukyat. Pelaksanaan melihat bulan (rukyat) tidak menggunakan alat, seperti lazimnya dilakukan Kementerian Agama RI, tapi dengan mata telanjang.
 Artinya, aku Datuk Panyalai, mereka melihat langsung hilal dengan mata telanjang, tanpa menggunakan alat. “Kalau mereka melihat langsung puasa, kalau tidak tunggu sampai kelihatan,” ujar dia. Pengikut Sattariyah bisa melihta hilal langsung, karena mereka berada di pinggir Samudera Indonesia (India), sehingga bisa melihat langsung. Itu sebabnya, ada kelompok thariqat Sattariyah yang berbeda pelaksanaan puasanya dibanding umumnya umat Islam. Tapi thariqat Sattariyah Syekh Burhanuddin Ulakan berpusat di kota Tebingtinggi ini, awal puasanya mengikuti versi pemerintah. Wallahu a’lamu bi ash shawab. Abdul Khalik
Posted by abdul Khalik
Tag :

Kota Nabi, Taman Kurma, Tempat Pelesiran dan Orang Gila

PERGI umroh di akhir tahun atau setidaknya sehabis musim haji, diharapkan akan berlangsung tenang, karena kondisi kedua tanah haram, Makkah Al Mukrramah dan Madinatul Munawwarah akan sunyi, karena puncak ibadah, yakni haji sudah terlewati. Begitulah pikiran kebanyakan para peziarah selama ini. Begitu pula yang kami dengar. Atas dasar itu pula, penulis dan puluhan jemaah pergi umroh di akhir tahun bersama PT. Siar Haramain Internasional.
Namun, faktanya berkata lain. Kedua kota itu tetap saja penuh sesak oleh ratusan ribu peziarah dari berbagai negeri. Secara kasat mata saja, dari informasi tak resmi setiap harinya sekira 600 ribu umat Islam Indonesia menjejakkan kakinya di kedua kota itu. Belum lagi dari berbagai negara muslim semisal Malaysia, Pakistan, Turki dan belasan negara lainnya. Saat berada di Masjid Nabawi dan bertemu dengan sejumlah orang Indonesia, mereka mengaku dari berbagai pelosok negeri, mulai dari Aceh hingga ke Maluku. Setiap hari Masjid Nabawi dipadati jemaah yang jadi makmun sholat lima waktu. Sekira setengah areal masjid terbesar kedua itu sesudah Masjidil Haram, terisi penuh.
Di Masjid Quba’ yang jadi tempat berziarah jemaah umroh, Kamis (18/12), kondisinya juga demikian. Untuk buang air kecil saja tak bisa, karena jemaah penuh sesak. Areal parkir di Jabal Uhud tempat rombongan perjalanan umroh dari berbagai negara, juga terlihat padat rapat oleh kenderaan bus. Diperkirakan kondisi Makkah Al Mukraamah juga tak akan jauh berbeda dengan yang ada di Madinah.
“Memang sekarang tak bisa lagi berharap Makkah dan Madinah sunyi. Kalau dua tahun lalu memang, tapi sekarang, sepanjang tahun tetap saja ramai,” ujar M. Yazid, kepala rombongan kami dari Siar Haramain, saat berbincang soal kondisi itu. Menurut Yazid, kondisi itu dipicu oleh pandangan selama ini, bahwa pasca musim haji Makkah dan Madinah akan sunyi, sehingga enak untuk beribadah. Entah bagaimana asumsi itu merebak, sehingga banyak orang yang mendaftar untuk berangkat di akhir tahun. Kelompok-kelompok itulah kemudian yang menyatu saat ini, sehingga kondisinya tetap saja ramai.
Pasar di sekitar Masjid Nabawi  juga penuh sesak oleh pedagang dan pembeli. Suara-suara pedagang pinggir jalan menghiasi halaman luar masjid tempat di mana jasad Rasulullah Saw disemayamkan. “Tapi tak terdengar lagi suara khamsah (lima) lira, sekarang ganti jadi 10 lira,” ujar Pak Prabudi Said, saat kami menikmati suasana pasar kaget ala Madinah itu. Setahun lalu, suara padagang penjual jilbab memang menarik perhatian kami, sehingga menjadi arena hiburan melepas kepenatan usai beribadah. Di tepi pasar itulah, sejumlah wartawan Waspada kala itu, asik menghabiskan waktu menunggu panggian adzan.
Kini di perjalan umroh kedua bersama Pemred Waspada, ada pengalaman menarik ketika Yazid mengajak kami untuk mengunjungi ‘Pasar Kurma’ sebuah pasar makanan dan minuman yang banyak dikunjungi orang Indonesia. Pasar itu, berada di sebuah areal yang tidak jauh dari jalan menuju gerbang utama Masjid Nabawi. Sebelum menuju ke sana, kam menyempatkan menikmati pahitnya Tukish Coffee, seharga 10 rial. Dengan kopi di tangan kami menuju lokasi Taman Kurma itu.
Taman Kurma, tidak terlalu luas, hanya terdiri atas sejumlah pondok untuk pengunjung jika ingin bersantai dan menghabiskan makanan dan minuman yang di beli di komplek itu. Tapi, bagi banyak orang Indonesia, taman itu jadi istimewa, karena di sana dijual berbagai makanan khas Indonesia. Mulai dari nasi goreng, mie rebus, misop dan bakso atau sejumlah panganan lain yang akrab di lidah kita. Harganya juga tidak terlalu mahal, karena memang kelas pedagang makanan di komplek Taman Kurma, bak kelas pedagang di warung kecil.  Tapi selain makanan Indonesia, bagi pengunjung yang ingin menikmati berbagai makanan dari negeri lain, juga tersedia di lokasi ini, misalnya berbagai makanan khas India, Mesir maupun dari Pakistan serta China. Ice Cream Turki yang terkenal juga terlihat disuguhkan kepada pengunjung.
Tapi di tempat itu pula, penulis tidak mengira ternyata ada patologi sosial kota yang tak tertangani. Sesosok orang gila dengan pakaian kumal serta rambut gondrong yang semrawut ternyata terlihat berkeliaran bebas di kota Nabi itu. Meski tidak menganggu pengunjung Taman Kurma, tapi penulis berfikir, bagaimana pemerintah Saudi Arabia yang begitu kaya masih menyisakan orang kurang waras bebas berkeliaran di kota suci itu.
Jika Taman Kurma, adalah tempat penjualan makanan minuman bagi kebanyakan. Maka dapat dipastikan Madinah adalah kota yang ramah terhadap pedagang mikro dan kecil. Seputaran Masjid Nabawi, merupakan bukti bagaimana pedagang asongan bebas menjual barangnya kepada jemaah masjid. Namun, aktifitas pedagan asongan pun tidaklah bebas, karena setiap saat polisi selalu mengusir mereka. Pedagang asongan ini menjual segala hal yang dijual pula oleh toko-toko di hotel sekitar Masjid Nabawi, tapi tentu saja dengan harga miring.
Di antara sekian banyak pedagang mikro yang beraktifitas, penulis tertarik dengan pedagang Alquran di pintu masuk Masjid Nabawi. Bagaimana tidak, dengan penuh keyakinan mereka menawarkan Alquran dengan cara simpatik, yakni minta agar kitab suci itu diwakafkan ke masjid. Tapi, ketika ditanya berapa harga satu eksemplar Alquran mereka menjawab 50 rial. Hitung saja berapa harganya, jika kurs 1 rial sama dengan Rp3.500. Tentu harga yang cukup mahal, jika dibanding dengan harga Alquran di sini.
Madinah Al Munawwarah sejak lama dipandang sebagai kota Nabi. Cap yang melekat itu, memang dijaga secara baik oleh pendudukan setempat. Banyak orang Indonesia yang mengakui Madinah jauh lebih ramah dari penduduk Makkah. Agaknya, karena seringkali orang-orang Madinah ramah terhadap pendatang yang ingin beribadah dan berziarah ke sana, misalnya dengan manyapa atau paling tidak melalui senyum yang sering mereka lakukan kepada orang asing . “Soal keramahan mungkin Madinah lebih ramah dari Makkah,” ujar seorang jemaah di Masjid Nabawi, saat menunggu waktu Zhuhur masuk.

23 January 2015
Posted by abdul Khalik
Tag :

Stadion Kp. Durian T.Tinggi, Harus Diselamatkan Dari Mafia Tanah!


      SATU bulan belakangan, stadion bola Kampung Durian, di Jalan A. Yani, Link.02, Kel. Durian, Kec. Bajenis, Kota Tebingtinggi, suasananya setiap sore kembali dihiasi hiruk pikuk penonton si kulit bundar. Kompetisi sepak bola antara klub se Kota Tebingtinggi dan sekitarnya, kembali menggeliat, setelah hampir 20 tahun, suasana itu tak pernah kedengaran lagi.
      Belasan klub dari dalam dan luar kota ikut meramaikan kompetisi yang digelar Pengcab PSSI kota Tebingtinggi itu. Panitia pun membagi klub peserta dalam dua peringkat, yakni divisi utama dan divisi 1. Diperkirakan, roda kompetisi akan berlangsung satu bulan lebih guna penyusunan klasemen di antara klub-klub yang ada. Kompetisi itu, bak membalas kerinduan belasan tahun, karena setiap hari disaksikan penonton yang terus bertambah, memenuhi arena yang terlihat sekarat.
      Jujur, tak pantas sebenarnya jika kompetisi antar klub sepak bola dilaksanakan di stadion itu, karena fasilitasnya tak layak. Lapangannya yang telah puluhan tahun tanpa perbaikan. Demikian pula dengan stadion yang hanya tinggal puing-puing tak karuan. Serta fasilitas pendukung yang sama sekali tak ada. Stadion Kp Durian itu, pantasnya disebut sebagai lapangan tempat lembu, kerbau dan kambing di angon.
      Stadion Kp. Durian yang sejak lama jadi lapangan sepak bola kebanggaan Kota Tebingtinggi, jejak historisnya menyimpan sejuta kenangan manis dan teramat sulit dilupakan masyarakat. Itulah satu-satunya lapangan yang pernah melahirkan dua kapten tim nasional PSSI, yakni Ramlan Yatim di era 1950-an dan Anshari Lubis di era 1990-an. Selain sejumlah nama pesepak bola yang pernah memperkuat tim nasional maupun Sumut dan klub-klub ternama lainnya.
      Dari sejumlah keterangan, stadion Kp. Durian dibangun sekira tahun 1930 oleh Tengku Alamsyah menjabat sebagai raja Kerajaan Padang. Tengku Alamsyah, menjadikan lapangan bola itu sebagai basecamp klub sepak bola Padang Sport Club yang didirikan dan dipimpinnya. Lapangan bola itu dilengkapi dengan stadion mini, sedangkan di belakang stadion itu, terdapat juga lapangan tenis, dengan pembatas dua jalan. Sekarang menjadi Jalan A. Yani dan Jalan Dr.H.Kumpulan Pane.
      Sebelum membangun lapangan sepak bola Kampung Durian itu, Tengku Alamsyah sempat membangun lapangan bola di Kampung Sawo (sekarang berada di belakangan Perguruan Diponegoro, masuk dalam wilayah Kel. Durian, Kec. Bajenis). Selanjutnya berpindah ke Kampung Bandar Sakti (tepatnya di pabrik ubi, Link.03, Kel. Bandar Utama, Kec. T.Tinggi Kota). Beberapa tahun kemudian, atau tepatnya 1936, lahan penonggol milik perusahaan asing diminta Tengku Alamsyah untuk dijadikan stadion standar.
      Sayangnya ketika lapangan bola itu dibangun dari tanah penonggol Kebun Bahilang, pengagasnya tak memperhatikan konsep modern, sehingga lapangan itu tak memiliki santel ban. Bahkan, lahan itu sendiri saat ini dalam kondisi memprihatinkan, karena berada dalam status hukum tak jelas. Di mana ada oknum-oknum tertentu yang mengklaim bahwa lahan itu, milik dari keluarga mereka.
      Dari sejumlah keterangan, lahan dari lapangan itu awalnya merupakan tanah penonggol (penunggu) yang menyatu dengan lahan Kampung Kurnia dan Durian, bagian dari lahan perkebunan miik Inggris bernama Horison Crossfil. Setelah ditanami tembakau, lahan itu kemudian diistrirahatkan dari penanaman untuk mengembalikan keaslian lahan. Oleh perusahaan pemilik lahan, diizinkan masyarakat untuk menggarapnya. Sedangkan Raja Negeri Padang Tengku Alamsyah, menjadikan areal itu sebagai lahan untuk kegiatan olah raga.
      Selain itu, penuturan dari zuriat Tengku Alamsyah, mengatakan lapangan itu milik masyarakat dan tidak boleh diperjual belikan. Hak publik itu ada sepanjang lahan itu digunakan untuk kepentingan publik, yakni untuk kegiatan olah raga. "Jadi tidak benar jika ada yang mengklaim lahan itu milik keluarga tertentu," ujar pemangku adat Negeri Padang Tebingtinggi Tngku Nurdinsyah Al Haj gelar Mahraja Bongsu Negeri Padang Tebingtinggi, dalam suatu pertemuan.
      “Saya pernah dengar Padang Sport Club itu dari orang tua,” ujar saksi sejarah stadion Kp. Durian, Aswad Asmara, 73, disela-sela keterlibatannya sebagai panitia kompetisi Pengcab PSSI itu. Pria yang lahir pada 1939 itu, mengakui stadion itu awalnya memang milik kesultanan Padang dan tidakmasuk dalam Gementee Tebingtinggi.
      Di era pasca kemerdekaan, tutur Aswad Asmara, stadion Kp. Durian masuk wilayah Kewedanaan Padang Bedagai, Kabupaten Deli Serdang. Lapangan itu, di era 1950-an menjadi basecamp Persatuan Sepakbola Kewedanaan Padang Bedagai (PSKPB) yang berinduk ke Deli Serdang. Bonden PSKPB, membawahi sejumlah klub di Kewedanaan Padang Bedagai yang umumnya merupakan klub sepak bola perkebunan dan desa. Misalnya, Paya Pinang, Tanah Besih, Pabatu, Sibulan, Bandar Bejambu, Gunung Pamela, Bajalingge (Dolok Merawan), Dolok Masihul hingga Rambung Sialang. Sedangkan klub sepak bola Gementee Tebingtinggi, misalnya Muda Sebaya, Tebing Putra dan beberapa klub yang dia lupa namanya.
      Kesemua klub itu, sekira 1974 ketika terjadi pemekaran Kota Tebingtinggi, jadi cikal bakal berdirinya Persatuan Sepak Bola Tebingtinggi Sekitarnya, dikenal dengan akronim PSKTS. Berdirinya PSKTS dengan dukungan sejumlah klub desa dan perkebunan itu membuat bonden ini disegani di tingkat Sumut. Rutinitas kompetisi yang digelar, juga melahirkan sejumlah pemain sepak bola yang cukup handal. Misalnya, kiper Taufik Lubis dan penyerang Effendi Maricho di era pertengahan 1980-an.
      Tak hanya melahirkan sejumlah pesepak bola handal. Stadion Kp Durian juga, di masa lalu, memiliki kapasitas sebagai stadion yang layak tanding untuk tingkat nasional. Kompetisi Galatama era 1980-an, misalnya pernah mengambil lokasi bertanding di stadion itu. Beberapa pertandingan yang masih diingat, misalnya klub Sari Bumi Raya Bandung dan Pardedetex Medan, pernah merasakan empuknya merumput di stadion Kp. Durian.
      Namun, di era 1990 aroma harum stadion Kp Durian mulai meredup, setelah Pemko Tebingtinggi kurang merespon dinamika sepak bola di kota itu. Ditambah lagi dengan terjadinya stagnasi di organisasi PSKTS setelah bonden jadi ajang untuk kepentingan pribadi pengurusnya. Sejak itu, sejumlah klub perkebunan pun pindah dan mencari bonden lain, diantaranya PS Rambung Sialang. Kondisi itu berlangsung hingga kini, di mana PSKTS tak pernah melakukan aktifitas dan klub-klub pun tiarap, karena berbagai persoalan melilitnya.
      Keberadaan Pengcab PSSI pun, awalnya tak menunjukkan greget menggembirakan. Namun, belakangan kepengurusan baru, mulai menunjukkan i’tikad baik untuk memajukan sepak bola kota kue kacang yang telah mati suri. Roda kompetisi antar klub Pengcab PSSI itu, selayaknya diapresiasi positif. Satu pesan yang harus diingat, menghindari kepentingan politik olah raga jangka pendek. Akhirnya, selamat berkompetisi untuk melahirkan pesepak bola tangguh di Kota Tebingtinggi tercinta.
      Saat ini, pada 2015, banyak kalangan mulai mengklaim bahwa lapangan sepak bola itu merupakan milik keluarga tertentu. Terihat, ada sebuah plank di hadapan lapangan yang kini tak terurus itu. Bunyi plank itu, 'Tanah Ini Milik Ahli Waris OK Aliviyah.' Tak jelas bagaimana klaim it bisa dilakukan oleh oknum-oknum dimaksud. Padahal, sejarah lapangan itu membuktikan, bahwa sejak awal dibangunnya lapangan itu, merupakan andil besar dari Raja Kerajaan Negeri Padang Tengku Alamsyah.A.Khalik
21 January 2015
Posted by abdul Khalik
Tag :

Pengamat : UU ASN Berlaku 2015, Daerah Harus Persiapkan Diri

PELAKSANAAN Undang Undang No.5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) pemberlakuannya akan dipercepat, yakni pada 2015. Percepatan itu sesuai dengan surat edaran Menteri Dalam Negeri terkait UU dimaksud. Salah satu poin terpenting dari surat edaran Mendagri, adalah pembentukan panitia seleksi (Pansel) penempatan pejabat eselon, mulai dari eselon II, III dan IV. Pemerintah kabupaten/kota seharusnya sudah mempersiapkan Pansel sejak dini.
Hal itu disampaikan pengamat politik dan otonomi daerah Fisip USU Drs. M. Ridwan Rangkuti, MA, saat berbincang di Tebingtinggi, kemarin, terkait dengan belum terlihatnya kesiapan daerah dalam menyahuti SE Mendagri di maksud.
Menurut Ridwan, semestinya pemkab/pemko sudah harus mempersiapkan Pansel yang akan bekerja dalam rangka penilaian terhadap jabatan dan kepangkatan yang ada di Pemkab/Pemko masing-masing. “Ini sesuai dengan UU No.5/2014 dan SE Mendagri, bahkan beberapa daerah sudah melakukan pembentukan Pansel,” terang dosen senior Fisip USU itu.
Ditambahkan, berdasarkan UU dimaksud, Pansel di daerah berjumlah antara sembilan, tujuh atau lima orang, sesuai jumlah PNS yang ada di setiap kab/kota. Dari jumlah itu, komposisi Pansel terdiri atas 55 persen dari eksternal dan 45 persen dari internal. Di mana, kalangan eksternal akan direkrut dari perguruan tinggi, tokoh masyarakat dan kalangan profesional. Sedangkan kalangan internal, bisa berasal dari Baperjakat.
Keberadaan Pansel, dikatakan Ridwan, sangat penting karena bisa berdampak pada pengesahan APBD kab/kota di Pusat. “Daerah-daerah yang belum mengakomodir keberadaan Pansel, APBDnya akan bermasalah di Pusat,” ungkap pengajar S2 di berbagai perguruan tinggi itu.
Pun demikian, beberaa pejabat di Pemko Tebingtinggi, sebelumnya mengakui persoalan itu masih dalam kajian mendalam.  Salah seorang pejabat yang pernah menjadi Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan, mengatakan untuk sampai ke tahap itu banyak peraturan yang perlu direvisi. “Saya kira revisi itu harus diberlakukan dulu sebelum sampai pada pembentukan Pansel,” ujar Amas Muda, SH, alumni Fak. Hukum USU itu.
Misalnya, soal penetapan pejabat Pembina pegawai, pengangkatan pejabat dalam jabatan, perubahan struktur pemerintahan daerah, serta berbagai perangkat yang selama ini menjadi standar organisasi birokrasi.
Namun, menurut Ridwan, pelaksanaan UU No.5/2014 itu dilakukan secara bertahap dan itu merupakan kehendak pemerintah pusat. “Saya kira semua itu harus dilakukan secara bertahap,” jelas Ridwan Rangkuti. Khalik   

Posted by abdul Khalik
Tag :

Syekh H. Tg. Mhd. Hasyim Al Kholidi Naqsabandi Ulama Besar Kerajaan Padang Tebingtinggi

Pengantar Redaksi : Tulisan tentang Syekh H.Tengku Mhd. Hasyim Al Kholidi Naqsabandi pada 2009 lalu, hingga kini mendapat tanggapan dan protes dari pembaca, karena menilai banyak kesalahan didalamnya. Hal itu, memaksa kami menggali kembali sejarah hidup ulama thariqat asal Negeri Padang Tebingtinggi ini Berikut tulisan revisi yang mudah-mudahan bisa diterima semua kalangan. Salam...

      TAK BANYAK generasi muda sekarang di Kota Tebing Tinggi yang mengetahui sosok ulama tarikat satu ini. Padahal, Tengku H. Syekh Muhammad Hasyim Al Kholidi Naqsabandi,(1792-1928) merupakan satu di antara khalifah tariqat Al Kholidi Naqsabandi  asal Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi di masanya. Beliau merupakan ulama besar kerajaan dan menjadi mufti terlama dengan jumlah murid ribuan orang. Bahkan, hingga kini aliran thariqatnya masih banyak dipelajari di berbagai daerah.
      Di masa itu, kebanyakan mufti dari berbagai kerajaan dan kesultanan Melayu di pesisir timur Sumatera berasal dari persulukan Babussalam. Kerajaan Negeri Padang sendiri memiliki hubungan khusus dengan persulukan itu, karena banyak keluarga kerajaan yang mengikuti pendidikan di sana. Salah satunya, adalah Syekh Tg. Muhammad Hasyim Al Kholidi Naqsabandi.  
      Hal itu dikuatkan dengan besarnya peran para murid persulukan dalam pengembangan dan penyiaran dakwah Islam di Kerajaan Padang, khususnya di kawasan etnis Simalungun di Tinokkah. Sipispis. Hingga 1930, dikabarkan terdapat madrasah pendidikan Islam di kawasan itu yang dibanguan raja Kerajaan Padang Tebing Pangeran, dengan guru-guru berasal dari persulukan Babussalam itu. Sedangkan muridnya, berasal dari kawasan Raya Kahaean dan sekitarnya.
      Syekh H. Tg.. Muhammad Hasyim Al Kholidi Naqsabandi, merupakan mufti resmi Kerajaan Negeri Padang terlama, di mana beliau hidup di masa Raja Marah Hakum gelar Panglima Goraha (1830-1870) dan di masa Marah Hudin atau Tengku Haji Muhammad Nurdin alias Tengku Haji (1870-1914). Juga di masa Tengku Jalaluddin wazir Kesultanan Deli di Negeri Padang. Sepeninggal Syekh H. Tengku Muhammad Hasyim pada 1928, posisinya digantikan oleh Syekh H. Mahmud Syafi'i (1928-1935) sebagai mufti Kerajaan Negeri Padang.
      Syekh H. Tg. Mhd. Hasyim Al Kholidi Naqsabandi, dari penuturan buyutnya Husni Thabri,  wafat di Kampung Dolok Sari (Kampung Kebun Kelapa) pada 1928. Ulama kharismatik itu diperkirakan berusia 130 tahun dan dikebumikan di pemakaman keluarga, kini terletak di Gg. Keluarga Link.01, Kel. Tebing Tinggi, Kec. Padang Hilir.
      Dikisahkan, Tengku Mhd Hasyim dilahirkan di Bandar Khalifah sekira tahun 1792 dari keluarga Kerajaan Padang Tebing Tinggi di Bandar Khalifah. Ayahnya bernama Tengku Abdullah, bangsawan dari Kerajaan Johor, Malaysia. Sedangkan Pak Cik beliau, merupakan raja Kerajaan Padang ke 9 bernama Raja Tebing Pengeran yang gugur  di Kampung Pematang Buluh, Bandar Khalifah, akibat pengkhianatan dalam perang melawan Kerajaan Bedagai sebagai taklukan Kesultanan Deli.
      Raja Tebing Pangeran dalam literatur terbatas, dikenal sebagai pemberi nama dan pendiri Kota Tebing Tinggi. Di masa kekuasaannya, berdiri pangkalan (pelabuhan sungai) di tepian Sei Padang tepat di muara Sei Bahilang. Pangkalan diberi nama sesuai dengan nama pendirinya, yakni Pangkalan Tebing. Belakangan nama itu berkembang menjadi Tebing Tinggi seiring dengan pertumbuhan daerah itu.
      Pasca wafatnya Raja Tebing Pengeran, tampuk kekuasaan Kerajaan Padang dikendalikan bangsawan dari garis keturunan lain, yakni garis keturunan etnis Barus, yakni Marah Hakum gelar Panglima Goraha. Gejolak politik kerajaan itu, telah meminggirkan hak-hak politik dari warga Melayu keturunan Raja Tebing Pangeran, di mana mereka hanya mendapat hak memimpin kesyahbandaran Bandar Khalifah. Akibatnya, beberapa diantaranya beralih perhatian dari kekuasaan dengan mendalami agama Islam dan menjadi pendakwah Islam.
      Satu di antaranya adalah Tengku Mhd. Hasyim yang kala itu masih berusia muda. Dia mendalami ilmu tariqat dari aliran Naqsabandiyah di Basilam, hingga kemudian sempat menduduki salah satu jabatan khalifah persulukan itu. “Mungkin Syekh Muhammad Hasyim ini, menjadi murid dari ulama besar dan pendiri thariqat Naqsabandi Syekh Abdul Wahab Rokan Al Kholidi Naqsabandi,” kata  Husni Thabri, PNS yang bekerja di Pemko Tebingtinggi itu. Syekh H. Abdul Wahab Rokan Al Kholidi Naqsabandi (1811-1926), merupakan ulama thariqat terkenal ini yang membuka persulukan di Kampung Babussalam, Langkat.
      Namun, dari sejumlah data, Syekh Tengku Muhammad Hasyim Al Kholidi Naqsabandi berguru kepada Syekh Sulaiman Hutapungkut dari Padang Sidempuan, serta Syekh Ali Ridlo di Jabal Qubais, Makkah, sehingga tidak memiliki jaringan murid dengan persulukan Naqsabandiyah Babussalam, Langkat, tapi memiliki aliran yang sama dengan persulukan Naqsabandiyah, Babussalam.
      Pada masa berikutnya, Mhd Hasyim kembali ke kampung halamannya di Kerajaan Padang dan menetap di Kampung Dolok Sari. Beliau menikah dengan Hj Syofiah dan mendapat tujuh anak. Selain istri pertama, ulama tariqat ini juga memiliki tiga istri lainnya. Tapi belum diperoleh data, siapa saja ketiga istri ulama besar itu selain Hj. Syofiah yang dikabarkan juga memilik banyak keturunan.
      Salah satu diantara anak Syekh Muhammad Hasyim yang juga berkembang adalah Tengku Abdul Muthallib. Tengku Abdul Muthallib menikah dengan dua perempuan, satu diantaranya bernama Wan Fatimah Syam. Dari pernikahan antara Tengku Abdul Muthallib dan Wan Fathimah Syam itu, lahir pula beberapa anak, satu diantaranya Tengku Abdan. Tengku Abdan ini menikah dengan wanita etnis Minangkabau bernama Nurhayati Tanjung. Dari kedua pasangan itu, punya keturunan, yakni enam anak diantaranya bernama Ilmal Bani Hasyim.
      Dari tiga istri lainnya, belum ditemukan silsilah keturunan Syekh Tengku H. Mhd Hasyim Al Khalidi Naqsabandi. Hanya saja, kebanyakan keturunan mulai cucu, cicit dan generasi berikutnya dari ulama besar itu, umumnya tinggal di kawasan Kel. Tebingtinggi, Kec. Padang Hilir.
      Husni Thabri, mengakui semua keturunan dari istri pertama telah meninggal dan kini hanya tinggal cucu dan cicitnya saja. “Anak terakhir buyut kami itu meninggal 1966 bernama Hj Mariatul Qobtiah,” ungkap Thabri, yang merupakan cucu keturunan terakhir dari istri pertama, ulama thariqat itu.
      Tengku H. Syekh Mhd Hasyim Al Kholidi Naqsabandi itu juga memiliki hubungan dengan pendiri Kota Tebing Tinggi Datuk Bandar Kajum atau Datuk Syahbandar Tebingtinggi dari Kerajaan Negeri Padang. Datuk Bandar Kajum beristrikan Hj. Fathimah yang merupakan anak pertama dari istri pertama Hj. Syofiah. Dari garis ini juga terdapat banyak keturunannya, misalnya Datuk Muhammad Ali yang menjadi Punggawa Negeri Padang di masa Mahraja Tengku Haji Muhammar Nurdin. Seluruh keturunan ulama thariqat itu menggunakan nama Bani Hasyim di belakang nama masing-masing, meski ada juga yang tidak mencantumkannya.
      Ulama tariqat itu sempat menunaikan ibadah haji ke Makkah, berlayar dari Pangkalan Tebing menuju Bandar Khalifah. Dari Bandar Khalifah, jamaah haji kala itu menyeberang ke Penang, Malaysia dan terus berlayar ke Jeddah. Di Makkah Al Mukarramah, atas cendra Tengku Haji Muhammad Nurdin, Syekh Hasyim, mendirikan masjid dan tempat penampungan jemaah haji asal Negeri Padang, sekira 1890 di tanah suci itu. Namun, tempat peristirahatan itu saat ini tidak lagi ditemukan seiring dengan perluasan Masjid Haram yang terus berlanjut.
       Sekembalinya dari tanah suci, dari Kampung Dolok Sari itu pula, lanjut Husni Thabri, khalifah Naqsabandiyah itu, menyebarkan pahamnya ke berbagai wilayah, meliputi kerajaan Padang, Bedagai hingga ke Kerajaan Serdang. Lima Laras dan Kerajaan Bandar. Beberapa persulukan dibuka murid-murid Tuan Guru Mhd. Hasyim, di antaranya di Bandar Tinggi, Bedagai, Sei Buluh, Lidah Tanah, Tebing Tinggi dan Bandar Khalifah. Jejak terakhir dari penyebaran tariqat Tuan Guru Mhd. Hasyim itu, masih terlihat di Lidah Tanah, tepatnya di Kampung Tengah. Dulu dipimpin Khalifah Adnan dan terakhir ada di Sei Buluh dipimpin H. Dul Hadi, terang Thabri.
      Tuan Guru Mhd. Hasyim juga membuka persulukan di lahan miliknya. Namun, saat ini persulukan itu telah lama rubuh dan lahannya kini menjadi area perkebunan ubi, tepat dipinggir rel kereta api arah Rantau Prapat, di kelurahan Tebing Tinggi.
      Semasa hidupnya, ulama tariqat ini dikenal memiliki karomah sebagai tanda kedekatannya kepada Allah SWT. Seperti penuturuan nenek Husni Thabri kala masih hidup, Syekh Muhammad Hasyim ini dikenal dengan doanya yang makbul. Bahkan, setelah wafatnya, makam ulama itu sering diziarahi masyarakat untuk bernazar. “Seingat saya hingga tahun 1970 masih banyak orang yang berziarah,” kata dia. 
      Karomah lain yang sempat terekam dalam ingat keturunannya, adalah kemampuan Tuan Guru Mhd. Hasyim dalam melihat maksud orang yang datang kepadanya. Begitu pula dengan kemampuannya melihat masa lalu dan masa depan, di mana banyak masyarakat kala itu yang meminta tunjuk ajar padanya, kata Husni Thabri.
      Sayangnya, jejak ulama tariqat itu, kini tak lagi bergema. Seiring dengan perjalanan waktu, nama ulama thariqat asal Kota Tebing Tinggi itu, telah lama tak dibicarakan orang lagi. Bahkan, keturunannya telah belasan tahun tidak menyelenggarakan haul tuan guru itu. Haul terakhir yang dilaksanakan, kata Husni Thabri, seingat dia pada 1992. Setelah itu, kegiatan yang sama hilang ditelan seiring edaran masa. Namun, beberapa keturunan Syekh Hasyim, mengaku haul diselenggarakan setiap tahun meski tidak dengan acara besar-besaran. “Tetap saja dilakukan secara sedrhana,” ujar Mahyan Zuhri, mantan anggota DPRD kota Tebingtinggi.
      Makamnya pun kini terkesan tak terurus. Bangunan yang menutupi kubur terlihat telah kusam. Seng atasnya menganga lebar tak diperbaiki. Sedangkan plang nama yang terletak di depan komplek pekuburan itu, tulisannya juga telah kabur. Zaman, ternyata telah melupakan sosok ulama tariqat yang jaya di masa lalu. Bahkan, belakangan terjadi sengket antara sesame keturunan, di mana akhirnya makam itu tidak lagi diberi plank, guna menghindari konflik keluarga. Sudah semestinya Pemko Tebingtinggi melalui Disporabudpar memperhatikan makam ulama thariqat itu sebagai situs cagar budaya. Abdul Khalik
20 January 2015
Posted by abdul Khalik
Tag :

Wisata Murah dan Meriah, Datanglah Ke Tebingtinggi !


MENDENGAR nama kota Tebingtinggi, banyak orang beranggapan kota itu hanya kota lintasan yang tak memiliki lokasi wisata. Meski di kota itulah titik pisah antara jalur lintas Sumatera bagian timur dan bagian tengah jika pengendera keluar dari arah utara (Medan) menuju arah selatan Sumatera, tepatnya berada di Simpang Beo. Sejak lama, Pemerintah Kota Tebingtinggi pun bagai tak peduli dengan dunia pariwisata, karena beranggapan tak ada yang bisa dijual sebagai daya tarik wisata. Hotel dan penginapan sebagai sarana penting sejak lama tidak ada yang representatif, karena memang belum ada investor yang berminat.
            Tapi beberapa tahun belakangan, seiring dengan terjadinya pemekaran wilayah di sekitar kota Tebingtinggi, yakni pemekaran Kab. Serdang Bedagai, Kab Batubara dan tak lama lagi akan hadir Kab. Simalungun Hataran, pariwisata di wilayah pemekaran itu mulai menggeliat. Itu berarti ada peluang, kota Tebingtinggi bakal kecipratan. Kini beberapa hotel dan penginapan mulai tumbuh di kota Tebingtinggi. Itu menunjukkan adanya naluri pengusaha melihat peluang dunia pariwisata mulai menggeliat di sekitar kota Tebingtinggi.
            Laporan kali ini mencoba untuk menginformasikan sejumlah kawasan wisata murah di sekitar kota Tebingtinggi, juga termasuk beberapa kawasan wisata yang ada di dalam kota disertai dengan wisata kulinernya. Kota Tebingtinggi merupakan kota yang dikenal dengan kulinernya yang menggoda selera.
Pergilah Ke Danau Laut Tador
            Danau Laut Tador terletak di Kec. Sei Suka Kab. Batubara. Dari kota Tebingtinggi, kawasan wisata yang sedang jadi perhatian Pemkab Batubara ini bisa ditempuh dalam tempo sekira 30 menit menuju Kisaran. Sampai di Simpang Pelanggiran, arahkan kenderaan menuju Kebun Laut Tador. Lalu bertanyalah kepada penduduk, mereka pasti akan menunjukkan lokasi danau penuh cerita ‘misteri’ itu. Jalan menuju ke arah sana relatif bagus, karena sudah diaspal. Namun, jika ingin menikmati suasana lintasan perkebunan, bisa juga melalui kota Tebingtinggi menuju ke Kebun Paya Pinang Mendaris hingga Laut Tador.
            Danau ini berada di dalam HGU Kebun Laut Tador, diperkirakan luasnya sekira 8 Ha. Danau Laut Tador merupakan kawasan konservasi, sehingga di sekitar danau itu, kita bisa menikmati berbagai jenis flora berusia puluhan hingga ratusan tahun. Demikian pula dengan faunanya yang masih terpelihara. Di sekitar danau, kita bisa melihat aneka burung berterbangan di pepohonan tepian danau. Berbagai jenis ikan asli Danau Laut Tador juga bisa dilihat pengunjung, disamping ikan-ikan yang sengaja dimasukkan ke dalam habitat danau. Bagi mereka yang hobi memancing, danau ini menjanjikan kesenangan alamiah dengan keaneka ragaman jenis ikannya. Namun, hingga kini masih ada larangan untuk mandi di danau itu, karena kedalaman danau yang belum bisa dijangkau.
Saat ini, Pemkab Batubara dan masyarakat sekitar mulai menyadari potensi danau ini guna membangkitkan ekonomi wilayah sekitarnya. Sehingga mulai ada upaya penataan memperindah kawasan tepian danau. Akses jalan lintasan menuju tepian danau telah dibuka, meski terasa kurang maksimal. Belakangan, elemen masyarakat melakukan pengelolaan atas kawasan itu, sembari melakukan pengutipan retribusi pada hari-hari libur terhadap pengunjung yang datang.
Danau Laut Tador, adalah danau yang sejak dulu menyimpan ‘misteri’ dan menjadi ingatan abadi masyarakat di sekitarnya. Dari seorang cenayang bernama Syamsuddin, warga Dusun 2 Desa Laut Tador, penulis mendapatkan cerita keberadaan danau itu di masa lalu.
Alkisah, di zaman dulu Danau Laut Tador merupakan perkampungan yang dihuni masyarakat etnis Simalungun bermarga Saragih. Di kampung itu, hiduplah seorang gadis remaja bernama Tador beserta keluarganya. Suatu hari, penguasa kampung itu mengadakan pesta perkawinan untuk anak mereka. Pesta perkawinan akan dilakukan meriah selama beberapa hari dan beberapa malam. Keluarga Tador turut diundang ke pesta itu. Gadis remaja bernama Tador pun sangat bersuka cita ingin ikut dalam kemeriahan pesta.
Namun, pada hari pesta dimulai, usai bekerja di lading Tador pun tertidur karena lelah, sehingga keluarganya tidak membawanya ke pesta perkawinan penguasa kampong itu. Ketika Tador bangun, dia menemukan rumah dalam keadaan sunyi, karena keluarganya pergi undangan. Masgul lah hati Tador, sehingga dia menangis sejadi-jadinya di atas jerami padi yang baru dia panen. Tak hanya itu, saat menangis Tador mengiringinya dengan sumpah serapah. Akibatnya, air mata Tador menggenangi jerami padi yang makin lama makin banyak dan membesar. Akhirnya, air mata Tador itu berubah menjadi genangan air bak laut, sehingga menenggelamkan kampung itu. Masyarakat belakangan menamai kampung tenggelam itu sebagai Laut Tador.
Cerita lain di luar alam manusia. Danau Laut Tador adalah kawasan yang dihuni banyak kerajaan ghaib dari bangsa Bunian. Di Danau Laut Tador dari dasar danau hingga permukaannya ada tujuh kerajaan besar makhluk halus. Tujuh kerajaan ghaib itu membawahi 42 kerajaan lainnya dari berbagai etnis di sekitar kawasan itu. Konfederasi kerajaan-kerajaan ghaib itu, dipimpin Kerajaan Kalua. Kerajaan Kalua, adalah kerajaan ghaib berasal dari sungai Barito, Kalimantan. Pusat kerajaan ini berada pada pulau di tengah Danau Laut Tador.
Konfederasi kerajaan-kerajaan ghaib itu akan bermusyawarah pada saat bulan purnama setiap bulannya. Maka, pada saat pertemuan itulah, orang sering melhat penampakan adanya ular besar di ditengah danau. Namun, kerajaan-kerajaan ghaib itu tidak mengganggu pendatang, sepanjang mereka tidak melakukan hal-hal yang dipantangkan, misalnya meminum minuman keras atau berbuat mesum di sekitar danau.
Danau Laut Tador jika ditata dan dikelola dengan baik, akan menjadi salah satu ikon wisata Kab. Batubara, disamping kawasan wisata tepian pantai, seperti Pantai Merdeka. Dipastikan, jika banyak wisatawan berkunjung ke sana, kota Tebingtinggi akan kecipratan limpahan rejekinya.
Pemandian Putri Nagur
Pemandian Putri Nagur begitu namanya. Pemandian alamiah ini berada di aliran Bah Kuliat, di Desa Tinokkah, Kec. Sipispis, Kab. Serdang Bedagai. Pemandian ini, cocok untuk mereka yang menyukai kesejukan, kejernihan air sungai pegunungan, pemandangan alam dengan jejeran pegunungan Simbolon dan bentangan persawahan yang eksotis. Semua itu, dinikmati tanpa harus membayar. Di musim penghujan, debit air di pemandian Putri Nagur akan penuh dan itu memberi sensasi tersendiri bagi pengunjungnya.
Pemilik lahan pemandian Putri Nagur S. Damanik, mengatakan lokasi pemandian ini dinamakan demikian, karena dulunya wilayah ini masuk dalam Kerajaan Nagur. Kerajaan Nagur disebut-sebut sebagai kerajaan tertua etnis Simalungun, sekira abad 5-11 M. Pusat kerajaan ini berada di Naga Raja berjarak hanya sekira seribu meter dari lokasi pemandian. Kini situs pusat kerajaan itu telah ditemukan berada di hilir dari pemandian Putri Nagur.
Bah Kuliat adalah salah satu anak Bah Bolon yang di hilirnya disebut Sungai Padang. Jika pengunjung tak cuma ingin menikmati sejuknya pemandian Putri Nagur, bisa datang ke Ancol, pemandian yang berada di Desa Buluh Duri, Kec. Sipispis untuk kegiatan rafting. Beberapa tahun belakangan pesona jalur Bah Bolon bisa dinikmati pengunjung. Caranya, pengunjung bisa mendaftar pada pengelola rafting Bah Bolon, yakni ‘Sei Bah Bolon Whitewater Rafting’ yang memberikan jasa profesional untuk menikmati kegiatan itu. Cukup mengeluarkan dana Rp750 ribu/orang atau sesuai kesepakatan, pengunjung berkelompok maupun keluarga bisa menikmati liku-liku Bah Bolon.
Di kawasan Bah Bolon juga ada pemandian alam yang dikelola secara profesional, yakni ‘Pemandian Batu Nongol’ yang sejak bertahun-tahun lalu telah menarik minat masyarakat luas dari berbagai daerah.  Pemandian ini tak kalah pesonanya dengan Bukit Lawang, disamping berbagai jenis permainan yang disediakan pengelolanya. Tiket masuk hanya Rp15 ribu/orang yang dinilai wajar untuk menikmati berbagai fasilitas yang ada.
Semua kegiatan wisata di Bah Bolon baik yang gratis hingga yang harus berkocek tebal, telah dikenal luas keseluruh negeri. Namun, untuk pengunjung dari luar daerah mereka akan kesulitan dengan penginapan, sehingga harus pergi ke Medan. Ini menjadi peluang bagi kota Tebingtinggi yang hanya berjarak sekira 24 km dari tempat itu.

Pesona Tinggi Raja
Siapa yang tak kenal dengan Tinggi Raja. Kawasan yang memadukan pesona bukit kapur, air panas serta hutan konservasi yang berada di Kec. Silau Kahaean, Kab. Simalungun itu sudah demikian terkenal, karena banyak media massa nasional yang menyiarkan suasana magis kawasan itu. Tinggi Raja berjarak sekira 60 km dari kota Tebingtinggi. Dari kota Tebingtinggi, pengunjung menuju jalan alternatif kota Tebingtinggi-Dolok Masihul-Galang. Namun, tiba di Simpang Kerapuh, arah kenderaan belok kiri. Kemudian, nikmatilah jalan kebupaten yang masih sulit untuk dilintasi oleh mobil. Namun bagi para ‘petualang’ sejati mereka akan menyusuri jalan itu dengan kenikmatan tersendiri.
Banyak legenda sdi seputar Tinggi Raja ini. Salah satu yang terkenal adalah cerita yang dikisahkan Opung Saragih yang mengaku sebagai juru kunc kawasan suaka alam dan hutan konsrvasi ini. Opung Saragih mengisahkan, dulu di daerah itu tinggallah seorang raja yang memiliki banyak rakyat disertai jabolon (pelayan istana). Raja ini memiliki soerang puteri cantik jelita. Kecantikannya, membuat banyak pria terpesona. Sehingga raja memingit puterinya ini dengan cara tidak membolehkannya bergaul. Seluruh kebutuhan di puteri dipenuhi sang raja dengan memberinya pelayan dan seorang nenek (oppung) yang memenuhi seluruh keinginannya. Pada akhirnya sang puteri menjadi manja.
Di kerajaan itu ada kebiasaan adat, usai memanen padi di sawah, penduduk melakukan pesta meriah dengan cara menari, menyanyi, serta berdengkerama dengan sesama, khususnya muda mudi. Namun, pesta itu terlarang untuk puteri raja. Larangan itu membuat sedih sang puteri, setiap kali ada pesta adat. Pada pesta tahun itu, dengan perasaan kecewa sang puteri kemudian menulis surat kepada ayahanda raja dan mengirimnya melalui seekor burung.
Melihat suasana sedih yang dialami sang puteri, si oppung kemudian berinisiatif membuat pesta di kediaman sang puteri. Pesta itu berlangsung meriah dan dihadiri rakyat di sekitar kediaman sang puteri, namun pesta itu tak dketahui raja. Akan halnya raja, saat pesta teringat pada ibu dan puterinya. Kemudian, dia mengirimkan makanan daging kepada keduanya, melalui jabolon (pelayan). Di perjalanan, ternyata jabolon itu memakan daging yang dikirimkan dan hanya menyisakan tulang. Daging itu kemudian diganti dengan dagingkucing. Tulang-tulang dan daging kucing itulah kemudian yang sampai kepada oppung dan sang puteri.
Betapa terkejutnya oppung dan sang puteri, karena tak menyangka raja telah memperlakukan ibu dan anaknya sendiri secara tidak pantas. Keduanya merasa sedih yang teramat sangat, bahkan para dayang pengiring ikut masygul dengan kenyataan itu. Menyadari hal itu, oppung kemudian mengajak semuanya untuk kembaili bernyanyi dan bersuka ria, seolah-olah menerima dengan senang hati pemberian raja. Salah satu nyanyian yang terus mereka sanandungkan adalah ‘manong-nong (tengelamlah) tinggi raja’ hingga menjelang pagi hari.
Tanpa mereka sadari nyanyian itu ternyata menjadi kutukan. Secara perlahan dari perut bumi  membuncah air panas berbau belerang serta kapur berwarna-warni. Akhirnya air panas dan kapur itu menenggelamkan kampung raja. Raja yang belum sadar dengan kejadian itu, masih melanjutkan bercocok tanam, hingga burung yang dkirim sang puteri hinggap di pundaknya. Membaca surat itu, raja dan permaisuri segera pulang ke kampong, tapi hanya menemukan kampung yang tenggelam. Sesal dengan keadaan itu, mereka pun masuk ke dalam air dan lenyap ditelan bumi. Hingga kini, kucing menjadi hewan keramat, karena dipandang sebagai sebab hilangnya desa tinggi raja.
Water Boom Ala Tebingtinggi
            Ada sejumlah tempat pemandian yang dikelola sejumlah pengusaha dilengkap dengan alat permainan water boom. Pemandian itu, menjawab kesukaan warga kota Tebingtinggi terhadap air di masa lalu, karena aliran beberapa sungai yang selama ini jadi tempat mereka mandi secara alamiah.
            Sejumlah pemandian yang banyak dikunjungi masyarakat dalam dan luar kota, adalah, water boom Gundaling di Jalan Sukarno-Hatta, Kel. Tambangan, Kec. Padang Hilir. Water boom itu menjadi lokasi kunjungan di hari libur. Ada juga kolam renang Pondok Kencana yang berdekatan dengan water boom Gundaling. Kolam renang Pondok Kencana itu, jadi tempat penggemar renang melepas hobinya.
            Selain itu, ada juga kolam renang ‘Bayu Lagoon’ di Jalan Gatot Subroto, Kel. Pabatu, Kec. Padang Hulu. Bayu Lagoon menjadi tempat melepas lelah bagi masyarakat yang melintasi atau yang mengunjungi kota Tebingtinggi. Bayu Lagoon dikategorikan sebagai tempat rekreasi yanglengkap, karena selain kolam renang juga dilengkapi dengan rumah makan yang dilengkapi ruang pertemuan dan mushalla.
            Sebelum sampai di Bayu Lagoon, Anda bisa singgah di pemandian Lubuk Indah di Kel. Lubuk Raya. Pemandian itu dilengkapi dengan arena memancing bagi mereka yang hobi dengan kegiatan itu.

Kuliner Pembangkit Selera
Banyak warga luar kota yang datang ke kota Tebingtinggi, menegaskan bahwa makanan alias kuliner di kota itu umumnya lezat dan enak untuk disantap. Segala macam jenis panganan yang dijual para pedagang diakui sebagai makanan yang sudah pernah dirasakan, berikutnya akan ketagihan
Lemang, ada jenis makanan berbahan dasar pulut dicampur santan dan bumbu-bumbu lainnya, kemudian dimasukkan ke dalam bambu, kemudian dibakar, merupakan makanan tradisional yang jadi trademark kota. ‘Lemang Batok’ yang terletak di persimpangan Jalan KHA Dahlan dan Jalan Suprapto, sejak lama menjadi lemang paling terkenal. Tidak lengkap rasanya melintasi kota Tebingtinggi, jika belum menikmati ‘lemang batok’ itu. Meski harganya relatif di atas rata-rata harga lemang lainnya, tapi penggemar lemang akan datang ke simpang Cang A Fie itu untuk membeli lemang asli Tebingtinggi.
Belakangan, panganan lain yang juga sudah ‘mendunia’ adalah roti kacang. Roti kacang merupakan produk makanan yang kini memasuki masa booming. Bermula dari roti kacang cap ‘Rajawali’ yang diproduksi  salah seorang warga etnis Tionghoa. Kini berbagai merek roti kacang bermunculan meramaikan kuliner satu ini. Roti kacang yang terbuat dari tepung terigu dengan isi didalam dari berbagai jenis kacang, menjadi terkenal sebagai buah tangan kota Tebingtinggi. Hampir semua toko oleh-oleh dan P&D di kota Tebingtinggi menjual roti kacang, bahkan roti itu juga dijajakan di kabupaten dan kota sekitar Tebingtinggi.
Hal yang sulit untuk dilupakan para pengunjung yang datang ke kota Tebingtinggi, adalah kedai nasi gerobak yang menyebar di berbagai jalan di inti kota dan pinggiran kota. Kedai nasi gerobak ini menjadi andalan kuliner kota Tebingtinggi.  Umumnya, para pedagang nasi gerobak ini, adalah ‘urang awak’ (Minangkabau) yang terkenal dengan makanannya yang lezat. Kedai nasi gerobak itu, mulai buka sekira pukul 18.00 dan akan diserbu pengunjung hingga pukul 24.00. Racikan rasa dari berbagai masak urang awak itu tersedia, mulai dari racikan Minang Pesisir (Pariaman) hingga Minang Darek (Bukittinggi, Maninjau, Solok dan Payakumbuh). Jenis racikan makanan nasi gerobak kedua kelompo Minang itu berbeda. Racikan itulah yang memperkaya kuliner malam kota Tebingtinggi. Kuliner mala mini, telah mapan dan tergantung Pemko Tebingtinggi untuk membangun sarana dan prasarana bagi pengembangan uliner maam itu.
Beberapa buah tangan lain juga tengah menggeliat. Misalnya, berbagai hasil kerajinan tangan dari pengusaha kerajinan kota Tebingtinggi. Bahkan, dalam beberapa tahun belakangan, juga telah diproduksi batik khas Tebingtinggi, diprakarsai Diskouperindag. Kerajinan lain yang telah dipasarkan, misalnya sepatu, tas, dasi, bunga hias, alat pembersih serta sejumlah produksi kerajinan rumahan lainnya.
Dengan adanya MP3EI di Sungai Mangkei, peabuhan bebas Kuala Tanjung dan pusat karet di Sei Bamban di masa depan, kota Tebingtinggi akan menjadi tumpuan para pendatang. Kota ini memiliki modal yang kuat dari segi sumber daya manusia dan kreatifitas warganya. Persoalannya kemudian, sejauh mana kita mampu responsif terhadap pola arus pergerakan pembangunan itu nantinya. Wallah a’lamu bi asshawab. Abdul Khalik




             
19 January 2015
Posted by abdul Khalik
Tag :

Total Pageviews

- Copyright © KhalikNews -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -