Wako T.Tinggi Nyatakan Stadion Kp. Durian Milik Publik

WALI KOTA Tebingtinggi Ir. H. Umar Zunaidi Hasibuan, MM, menyatakan stadion Kampung Durian, di Jalan Prof. Hamka, Kel. Durian, Kec. Bajenis, merupakan milik publik dan harus tetap jadi lapangan olah raga. Wali Kota menegaskan Pemko Tebingtinggi tidak akan memberikan dana apa pun kepada siapapun terkait dengan upata renovasi stadion itu, karena jika itu dilakukan seara adminstratif merupakan kesalahan.

Hal itu ditegaskan Wali Kota Tebingtinggi, Senin (23/2), saat menerima audiensi pemangku adat Kerajaan Negeri Padang, di rumah dinas, Jalan Sutomo. Hadir mendampingi Wali Kota Staf Ahli Ismail Budiman, SH, Kadisporabudpar H. Azhar Effendi Lubis, SE, dan Kabag Humas PP Drs. Bambang Sudaryono.

 Diakui, selama ini banyak kalangan yang mengklaim stadion Kampung Durian sebagai milik keluarga mereka. Namun, ketika surat-surat terkait kepemilikan itu di minta, maka tak satu pun yang mampu menunjukkannya. “Sebenarnya sesuai UU Agararia 1960, tanah milik kerajaan yang sudah digunakan publik, statusnya tetap milik publik,” tegas Umar Zunaidi Hasibuan.

Wali Kota menyarankan agar pemangku adat dan zuriat kerajaan menyatukan persepsi untuk menyerahkan keberadaan stadion Kampung Durian kepada Pemko Tebingtinggi guna dikelola secara baik demi dunia olah raga di kota Tebingtinggi. “Jangan sampai stadion itu terlantar terlalu lama, karena masyarakat olah raga sangat membutuhkannya,” himbau Wali Kota.

Juru bicara pemangku adat Negeri Padang Abdul Khalik, mengatakan hasil dari rapat pemangku adat Kerajaan Negeri Padang, meminta agar Pemko Tebingtinggi segera melakukan pembicaraan, sehingga keadaannya tidak berlarut-larut dan merugikan dunia olah raga. Selain membuka kesempatan sejumlah oknum yang ingin mengambil manfaat dari ketidak pastian itu. “Pemangku adat sepakat, stadion Kampung Durian memang harus tetap jadi lapangan olah raga dan dikelola pemerintah kota,” ujar Khalik.

Dalam pertemuan itu, dibicarakan juga pemugaran sejumlah makam bersejarah para raja di Kerajaan Negeri Padang, misalnya makam keluarga Mahraja ke 7 Negeri Padang Marah Hakum gelar Panglima Goraha, di Kel. Bulian, Kec. Bajenis. Selain itu, disampaikan pula penulisan buku sejarah para pemimpin dan wali kota Tebingtinggi sepanjang masa, yang rencananya akan dipublikasikan tepat pada 1 Juli 2015 nantinya.

Pemangku adat yang hadir dalam temu ramah dengan Wali Kota Tebingtinggi, yakni Datuk Punggawa H. Ismail, SH, Datuk Amar OK Khairul Aswan, Datuk Bentara Juanda, Datuk Penghulu Negeri Tengku Machmud, dan Datin Sri Dewangga Hj. Kartini
Lakukan Pembicaraan
Sebelumnya, pemangku adat Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi melakukan pembicaraan dengan sejumlah kalangan sepuh terkat dengan keberadaan stadion Kampung Durian. Pembicaraan itu dilakukan terkait banyak klaim kepemilikan terhadap lahan lapangan sepak bola itu belakangan ini. Beberapa kalangan sepuh yang diundang berbicara, diantaranya Rusman Saleh, Aswad Asmara, Mahiddin Syafii dan H. OK Agahansyah.
Menurut juru bicara pemangku adat Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi Datuk Khuzamri Amar, SE, didampingi Datuk Azrai Hasan Miraza, serta beberapa pemangku adat lainnya, belum lama ini, pembicaraan itu untuk mengetahui sejauh mana keberadaan stadion bola itu. “Ini kita lakukan salah satunya dalam rangka mendata situs-situs Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi,” ujar Amar.

Ditambahkan, stadion Kampung Durian, sejak dulu merupakan situs penting Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi yang dibangun oleh Tengku Alamsyah yang menjadi wazir Negeri Padang sekira 1930. Sayangnya, ujar BKM Masjid Raya Nur Addin itu, hingga kini belum jelas bagaimana status lapangan sepak bola itu, sehingga Pemko Tebingtinggi tidak berani memanfaatkannya. “Malah kita mendengar ada pula oknum-oknum tertentu yang ingin menjual lahan itu, padahal semua tahu lahan itu milik publik,” tegas Khuzamri Amar.

Datuk Azrai Hasan Miraza menambahkan, hasil pertemuan dengan keempat sesepuh Melayu dan sesepuh kota Tebingtinggi itu, sepakat keberadaan stadion Kampung Durian itu harus dipertahankan sebagai lapangan sepak bola. “H. OK Agahansyah, Aswad Asmara dan Rusman Saleh yang paham status stadion, menyatakan sepakat lahan itu tetap jadi lapangan sepak bola,” terang Azrai. Tinggal lagi bagaimana Wali Kota Tebingtinggi dalam hal ini Disporabudpar menyikapi kehendak ini, tambah Azrai.

Diakui, kalangan sesepuh itu kecewa karena selama ini ada upaya kalangan tertentu yang hendak menjual lapangan, meski alas haknya tak jelas. “Banyak yang mendekati kita mengajak kerjasama menjual lapangan itu, tapi saya tolak. Saya ingin lapamgan itu tetap seperti semula,” aku H. OK Agahansyah,  cucu dari OK Aliviah, saat bertemu di kediamannya, kemarin.

Selain itu, Khuzamri Amar, SE, mengungkapkan pula hasil temuan dari pendataan situs-situs Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi, berupa makam Marah Hakum gelar Panglima Goraha (1830-1870), Raja ke VIII Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi. “Makam itu menjadi penemuan besar untuk mengungkap masa lalu Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi,” cetus Amar. Sebelumnya, sudah pula ditemukan makam Raja Tebing Pengeran, di Kec. Bandar Khalifah, Kab. Sergai.

Seluruh situs-situs yang kita temukan, kata Amar, nantinya kita harapkan akan menjadi bukti sejarah khasanah Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi. “Kita juga akan mengajukan situs-situs itu sebagai cagar budaya ke Pemko Tebingtinggi sesuai UU No.11/2010 tentang Cagar Budaya,” tandas Amar. Abdul Khalik









24 February 2015
Posted by abdul Khalik
Tag :

Syekh H. OK Machmoed Syafi’i Hoofdh Kadli Kerajaan Negeri Padang

          TAK BANYAK generasi sekarang di kota Tebingtinggi dan sekitarnya yang mengetahui jejak kehidupan dan perjuangan sosok ulama kharismatik Syekh H. OK Machmoed Syafi’I (foto). Machmoed Syafi’i adalah Mufti Besar atau Hofdh Kadli Kerajaan Negeri Padang, sepeninggal mufti sebelumnya Syekh H. Tengku Muhammad Hasyim Al Kholidi Naqsabandi, yang wafat pada 1928. Syekh H. OK Machmoed Syafi’i menjadi Hofdh Kadli Kerajaan Negeri Padang selama tujuh tahun, yakni 1928-1935. Ulama thariqat aliran Naqsabandiyah itu, hidup semasa dengan Raja Tengku Muhammad Nurdin alias Marah Hudin (1870-1914), pemangku raja Padang dari Kesultanan Deli Tengku Jalaluddin (1914-1928), Tengku Alamsyah (1928-1931), Tengku Ismail (1931-1933) dan Tengku Hasyim (1933-1946). Menjabat sebagai Hofd Kadli di masa Tengku Alamsyah, Tengku Ismail dan Tengku Hasyim.
          Beliau, dilahirkan pada 1854 di salah satu nagari di Batu Sangkar, Minangkabau dari keluarga penganut Islam yang taat. Di usia muda, Machmoed Syafi’i setelah belajar agama dengan banyak guru di kampungnya, diajak merantau oleh abangnya. Mereka pun melanglang buana ke berbagai negeri. Bahkan, sampai di Makkah al Mukarramah untuk belajar ilmu-lmu keagamaan khususnya ilmu tasawuf. Di tanah suci itu, Machmoed Syafii tinggal cukup lama, ada yang menyebut hingga delapan tahun, tapi ada juga yang menyebut 10 tahun.
          Saat Raja Kerajaan Negeri Padang Tengku Haji Muhammad Nurdin, menunaikan ibadah haji, keduanya bertemu. Dalam pertemuan itu, Tengku Haji Muhammad Nurdin, mengajak Machmoed Syafii untuk tinggal dan mengajar di Negeri Padang. Ajakan itu pun disambut dengan baik, bersama abangnya Machmoed Syafii pulang kembali ke tanah air. Dia, berdiam dan mengembangkan ilmu agamanya di Negeri Padang, sedangkan abangnya berdiam dan tinggal di Negeri Serdang.
Sudah menjadi tradisi di kalangan para sultan di Kesultanan Melayu Sumatera Timur, bahwa mereka memiliki kepedulian yang tinggi terhadap agama Islam. Salah satu di antara kepedulian itu, adalah mendirikan maktab di tanah suci. Maktab itu dimaksudkan sebagai tempat persinggahan dan menginap masyarakat di kerajaannya yang melaksanakan ibadah haji. Selain itu, mereka juga mengajak putra-putra asal Nusantara yang belajar dan bermukim di Makkah untuk kembali ke tanah air, mengajar dan mensyiarkan Islam.
          Tidak mengherankan, jika para sultan dari Kesultanan Langkat, Deli, Serdang, Bedagai, Padang, Asahan hingga Kuta Pinang memiliki ulama-ulama yang menimba ilmu dari Makkah. Dalam paham fiqih, seluruh Kesultanan Melayu Sumatera Timur bermazhab Syafiiyah, sedangkan dalam thariqat umumnya beraliran Naqsabandiyah.
          Selama tinggal menetap di Negeri Padang, Syekh H. OK Machmoed Syafii, banyak mengajar di kalangan keluarga kerajaan, mulai dari Bandar Khalifah hingga ke Tinokkah (Sipispis). Bahkan, beberapa maktab juga didirikan untuk siar agama Islam, khususnya di kalangan rakyat di hulu Negeri Padang yang masih memiliki keyakinan tradsional Sipelebegu. Awalnya, Syekh H. OK Machmoed Syafii tinggal dan menetap di Bandar Khalifah dan menjadi imam besar Masjid Raja Bandar Khalifah.  Dia, menjalankan tugas-tugas keagamaan sebagai tuan kadli mewakili Hofdh Kadli di kesyahbandaran itu. Di antara murid Syekh H. OK Machmoed Syafii yang kemudian mengikuti jejaknya adalah Tuan Kadli Harun dan Tuan Kadli Mahmud.
         
Selama hidupnya Syekh H. OK Machmoed Syafii memiliki empat istri dan 25 anak. Istri beliau tercatat Ulong Afifah, Ulong Sariah, Da’ah dan Siti Mariam. Dari 25 anak itu, hingga kini yang masih hidup, adalah Mahiddin Syafii (foto) yang saat ini bermukim di Kampung Atur Mangan, Kel. Sri Padang, Kec. Rambutan. Diperkirakan, keturunan Syekh H. OK Machmoed Syafii mencapai ribuan orang dan tersebar di berbagai daerah.
          Sebagai ulama kharismatik Negeri Padang, Syekh H. OK Macmoed Syafii juga dikenal sebagai ulama yang memiliki karomah. Sifat karomah itu menjadi cerita turun temurun di kalangan keluarga besar ulama thariqat Naqsabadiyah itu. Seperti penuturan Mahiddin Syafii, di mana Syekh H. OK Machmoed Syafii dengan izin Allah bisa merubah dedaunan menjadi uang di saat terdesak.
          Kisahnya bermula, ketika Syekh H. OK Machmoed Syafii yang telah menjadi Hofd Kadli Negeri Padang akan menikahkan warga kerajaan di Kampung Paya Kapar. Hofd Kadli ini selalu ditemani anak angkatnya bernama Said kemana pun dia pergi, baik saat mengajar atau berdakwah dan menikahkan warga kerajaan. Ketika malam tiba, berangkatlah Machmoed Syafii dan anak angkatnya menuju rumah ahlun nikah. Mereka berangkat menggunakan sado yang bertugas mengantar jemput mereka.
          Di perjalanan, ulama itu kelupaan membawa uncangnya tempat biasa menyimpan uang. Menjelang dekat dengan rumah ahlun nikah, Machmoed Syafii minta sado yang ditumpanginya berhenti dan dia pun turun. Kemudian segera berjalan menjauhi sado dan masuk ke hutan kecil di tepi jalan. Pengiringnya tidak mengerti kenapa ulama itu turun dan hilang sebentar di rerimbunan. Tak berapa lama Syekh Machmoed keluar dan mereka melanjutkan perjalanan. Menjelang turun, Syekh Machmoed memberikan ongkos kepada anak angkatnya Said dan berpesan kelebihan uang itu untuk anak angkatnya. Hanya saja, beliau menambahkan pesan, segera belanjakan uang itu dan jangan disisakan hingga esok hari.
          Entah karena sayang pada pemberian ulama itu, Said hanya membelanjakan sedikit uang itu, dengan minum kopi di salah satu warung. Sedangkan sisanya tetap disimpan. Keesokan paginya, Said terkejut karena siasa uang pemberian ulama itu hilang. Dicari kemana pun tetap tak ada. Ketika hal itu disampaikan kepada Syekh H. OK Machmoed Syafii, ulama thariqat itu hanya tersenyum, sambil mengatakan sudah diingatkan agar uang itu segera dibelanjakan.
          Karomah kedua yang jadi cerita turun temurun keturunan Syekh Machmoed Syafii, adalah menjala ikan di daratan, tapi jalanya berisi ikan yang banyak. Diceritakan, ketika masih bermukim di Bandar Khalifah, ada kebiasaan baik ulama ini, yaitu menjamu jemaah dan murid-muridnya untuk datang dan makan di rumahnya.
          Satu kali, istri keduanya Ulong Sariah mengingatkan akan adanya makan bersama dengan murid-muridnya di kediaman mereka. Sang istri mengingatkan, selain beras tak ada lauk pauk di dapur. Ulong Sariah meminta agar ulama itu mencari lauk pauk. Tapi hingga waktu maghrib, lauk pauk itu belum ada di dapur, sehingga sang istri gelisah dan melaporkannya kepada ulama bermazhab Syafiiyah itu.
          Segera saja, beliau mengambil jala yang tergantung di tiang dapur dan kemudian pergi keluar. Sang anak Mahiddin Syafii yang waktu itu berusia delapan tahun, heran bagaimana bisa malam-malam pergi menjala, sehingga dia mengikuti ayahnya itu. Anehnya, ulama itu tidak pergi ke sungai, karena jarak antara sungai dan rumah berkisar 100 meter. Mahiddin Syafii melihat dari atas tangga dapur lah ulama kerajaan itu menebar jalanya di daratan. Namun, ketika jala itu diangkat, ada banyak ikan yang masih hidup menggelepar di jaring jala itu. “Saya kaget bagaimana bisa menjala di darat, tapi ada ikannya,” terang Mahiddin, anak ulama Negeri Padang yang kini berusia 89 tahun, di kediamannya. Hasil menjala di darat itulah dijadikan lauk pauk menjamu makan murid-muridnya malam itu.
          Selama menjabat Hofdh Kadli Negeri Padang, Syekh H. OK Machmoed Syafii berkantor di Balai Kerapatan – sekarang Markas Koramil 013 – bersama dengan pembesar kerajaan lainnya. Sedangkan keluarganya tinggal di Kampung Badak Bejuang – sekarang eks Bioskop Prince atau komplek ruko Jalan KF Tandean – hingga wafatnya.
          Menurut penuturuna Mahiddin Syafii, ulama kerajaan Negeri Padang itu wafat pada 1935 sepulang dari mengikuti kegiatan muzakarah antar ulama kesultanan Sumatera Timur di Tanjung Balai. “Dari diagnosis dokter, orang tua saya itu meninggal karena serangan jantung,” tutur Mahiddin. Syekh H. OK Machmoed Syafii, dimakamkan di lahan keluarganya di Kampung Durian –sekarang Jalan Prof. Hamka – berdamping dengan stadion Kampung Durian. Di komplek itu juga dimakamkan salah seorang anaknya. Namun, pada 2010, saat lahan warisan itu dijual, makam ulama Negeri Padang itu dipindahkan ahli waris ke pemakaman Masjid As Syafa’ah Kampung Bicara di Jalan Prof. Hamka, Kel. Durian, Kec. Bajenis. Abdul Khalik

23 February 2015
Posted by abdul Khalik
Tag :

Momok Banjir Yang Semakin Terkendali (4)

            SEJAK lama, banjir merupakan momok tersendiri bagi masyarakat kota Tebingtinggi, khususnya berada di bantaran sungai. Terdapat tujuh kelurahan dengan belasan ribu rumah tangga yang setiap tahunnya mengalami dampak akibat banjir tahunan dari tiga sungai yang melintasi kota Tebingtinggi, yakni sei Padang, Bahilang dan Sibarau. Jika dihitung kerugian sepanjang banjir yang melanda perumahan warga, maka kerugian yang diderita masyarakat bisa mencapai angka hingga puluhan milyar rupiah.
            Salah satu di antara visi dan misi Wali Kota Tebingtinggi Ir. H. Umar Zunaidi Hasibuan, MM, adalah penanggulangan banjir di kota Tebingtinggi, di mana langkah-langkah yang dilakukan telah menunjukkan hasil, berupa dilaksanakannya program pengendalian banjir. Paling tidak selama 2012-2014, sejumlah program telah dilakukan dalam rangka menjalankan program itu, khususnya pada dua sungai berdampak, yakni sei Padang dan Bahilang. Bahkan, terhadap sungai Bahilang yang melintasi enam kelurahan, dilakukan perlakuan khusus guna menjinakkan kedatangan banjir dimusim penghujan.
            Pada 2011, banjir besar yang melanda kota Tebingtinggi berasal dari sei Bahilang, memberikan pengetahuan kepada Wali Kota Tebingtinggi bagaimana mengendalikan banjir yang terus menjadi momok bagi masyarakat di inti kota. Maka langkah pertama yang dilakukan menjinakkan sungai Bahilang, adalah dengan melakukan pengerukan terhadap dasar sungai. Dinas PU dengan mengandalkan alat berat eskavator, melakukan pengerukan dasar sungai sejak dari muara sungai hingga ke perbatasan kota. Kerukan dasar sungai kedalamannya mencapai 2 meter dengan areal kerukan tersebar, di mana material kerukan kemudian dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai keperluan. Hasilnya, kapasitas daya tampung sei Bahilang semakin besar.
     Tahap ini, kondisi banjir yang terjadi setiap turun hujan, telah mampu dikendalikan,  di beberapa areal pemukiman inti kota, karena badan sungai Bahilang mampu menampung limpahan air hujan yang turun. Misalnya, di Kel. Persiakan, Tualang, Bandar Sono, Mandailing dan Pasar Baru. Hal itu, diperkuat dengan kerja keras Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) yang melakukan pengerukan dan pembersihan terhadap drainase di seluruh kota. Dampaknya, banjir akibat hujan turun mulai bisa dikendalikan.
            Tak puas dengan pengerukan terhadap dasar sungai Bahilang, Dinas PU melalui Subdis Pengairan, melakukan langkah cukup brilian. Didahului dengan melakukan survey mendapatkan areal yang bisa dijadikan sebagai lokasi tampungan sementara, jika air bah akibat hujan di hulu yang seringkal tak terduga datangnya. Hasil survey diperolah badan sungai dengan lekukan tajam di Kel. Persiakan, Kec. Padang Hulu. Lekukan jalur sungai yang menyerupai angka 8 itu kemudian, dinegosiasikan untuk dijadikan sebagai kolam penampungan air bah (foto), kepada pemilik lahan, di mana si pemilik setuju. Dimulailah pembangunan kolam tampungan (situ) oleh Subdis Pengairan Dinas PU, dengan mengandalkan satu escavator saja, pada akhir 2012. Kedalaman situ  mencapai 5 meter dengan garis tengah lingkaran sekira 50 meter. “Saya yakin situ inilah kunci pengendalian banjir sungai Bahilang,” ujar Muhammad Yusuf, Kasubdis Pengairan Dinas PU kota Tebingtinggi yang bertanggung jawab soal itu.
            Kini, ribuan warga di Kel. Bandar Sono, Mandailing, Pasar Baru, Pasar Gambir dan Badak Bejuang, bisa mengurangi rasa khawatirnya, karena limpahan air hujan dari hulu yang selama puluhan tahun sering mengganggu tidur mereka, relatif bisa dikendalikan. Tapi, kerja belum selesai, karena masih ada problema di sejumlah kelurahan yang dilintasi sungai besar, yakni sungai Padang. Setiap kali debit air sungai Padang meningkat, dipastikan, Kel. Bandar Utama, Bandar Sakti dan Badak Bejuang akan mengalami kebanjiran. Penyebabnya, disinyalir adalah bendungan mati milik Dinas Pengairan Sumut di Kel. Tambangan Hilir, Kec. Padang Hilir yang selama ini menjadi sumber pengairan ribuan hektar sawah di Kab. Sergai.
            Maka langkah kedua pun dilakukan Wali Kota Ir.H. Umar Zunaidi Hasibuan, MM, dengan melakukan kerjasama di berbagai bidang dengan Pemkab tetangga itu. Hasilnya sejumlah kerjasama pun dilakukan. Salah satunya upaya pembangunan bendung gerak di hilir sungai Padang, belakangan dikenal dengan nama ‘Bendung Bajayu’ (Batak, jawa, Melayu). Prestasi besar pun diraih, Ketika Kementerian PU melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) II, mengalokasikan pembangunan bendungan itu berbiaya Rp250 milyar. Peletakan batu pertama pembangunan bendungan itu sudah dilakukan Gubsu H. Gatot Pudjo Nugroho, ST, MSi, beberapa waktu lalu. Diharapkan, jika bendungan itu selesai pada 2017 nanti, pengendalian banjir diakibatkan luapan sungai Padang akan bisa dikendalikan secara lebih baik, disamping kegunaan irigasi untuk persawahan di Kab. Serdang Bedagai.
            Sepanjang 2013-2014, hampir tidak agi terdengar ada banjir besar melanda inti kota Tebingtinggi. Orang agaknya bisa berfikir kritis bahwa dua tahun itu bukan musim penghujan dengan intensitas yang tinggi. Tapi bagaimana pun, harus diakui kerja keras Pemko Tebingtinggi dibawah kepemimpinan Ir. H. Umar Zunaidi Hasibuan, MM, dan Ir. H Oki Doni Siregar, telah berhasil pengendalikan banjir yang selama ini dikhawatirkan puluhan ribu masyarakat kota lintasan itu. Wallahu a’alamu bi ash shawab. Abdul Khalik
13 February 2015
Posted by abdul Khalik
Tag :

Pembangunan Jembatan Melalui Konsep P3 (3)

           SEPANJANG dua tahun penuh masa kepemimpinan Ir. H. Umar Zunaidi Hasibuan, MM dengan dua wakilnya,  Alm. H. Irham Taufik, SH, MAP dan penggantinya Ir.H. Oki Doni Siregar, perhatian Pemko Tebingtinggi terhadap sektor perhubungan sangat tinggi, bahkan bisa dikategorikan langkah maju. Paling tidak selama 2012-2014, ada tiga jalan yang dibangun, guna membuka isolasi lingkungan-lingkungan yang selama ini terisolir.
            Tiga jalur penghubung yang dibuka, yakni jembatan sei Padang II dan jalan penghubung antara Kel. Karya Jaya, Kec. Bajenis dengan Kel. Bandar Sakti, Kec. T.Tinggi Kota. Kemudian jembatan sei Sibarau I dan jalan penghubung antara Kel. Brohol dan Kel. Pinang Mancung, Kec. Bajenis, serta pembukaan Jalan Gelatik, Link 01, Kel. Pinang Mancung, Kec. Bajenis. “Jalan  Gelatik ini dikerjakan tepat saat bulan bakti gotong royong, bersama TNI, masyarakat dan Pemko Tebingtinggi,” ujar Camat Bajenis, Surya Dharma, SH, dalam satu kesempatan.
             Dari ketiga jalur penghubung atau jalan kota yang dibangun Pemko Tebingtinggi itu, salah satu diantaranya, yakni jembatan penghubung Kel. Brohol dan Pinang Mancung masuk kategori istimewa, karena satu-satunya di Indonesia, di mana konstruksi jembatan dan bahan bangunannya langsung berasal dari Jerman. Konstruksi jembatan itu, harganya mencapai Rp1,1 milyar.
            Wali Kota Ir. H Umar Zunaidi Hasibuan, MM, dalam satu perbincangan mengakui konstruksi dan bahan bangunan jembatan itu berasal dari Jerman, merupakan hibah dari Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementeria Pekerjaan Umum RI, pada 2013 lalu. Ditambahkan, saat itu Wali Kota sebagai ketua dari asosiasi jalan dan jembatan Sumut mendapat undangan dari Kementerian PU untuk melakukan kunjungan kerja di Jerman, terkait kontrak kerja pembangunan jembatan di berbagai daerah di Indonesia. “Sepulang dari lawatan itu, kita ajukan permohonan agar Tebingtinggi mendapatkan hibah jembatan itu. Alhamdulillah permohonan kita diterima,” ungkap Wali Kota.
Dengan demikian, jika jembatan sei Sibarau I itu selesai, maka itulah jembatan pertama di Indonesia yang berhasil dibangun yang bahan-bahan dan teknologinya berasal dari Jerman. Nilai bahan bangunan jembatan itu saja mencapai Rp1,1 milyar. Selain itu, pembangunan jembatan sei Sibarau I, merupakan model ideal yang diharapkan jadi model pembangunan di seluruh Indonesia, karena terjadinya hubungan sinergis antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat atau dikenal dengan istilah P3 (Pemerintah, Publik dan Privat). Artinya pemerintah pusat memberikan hibah (berbentuk bahan bangunan) kepada pemerintah daerah, kemudian pelaksanaan pekerjaannya dibiayai pemerintah daerah, sedangkan masyarakat memberikan lahan mereka untuk pembangunan tanpa harus mendapat ganti rugi alias gratis. “Inilah konsep ideal dalam pembangunan di Indonesia dan kita sudah memulainya,” tegas Wali Kota.
Dari data yang berhasil diperoleh pada lokasi proyek, pembangunan jembatan sei Sibarau I menelan dana Rp6.337.500.000, berasal dari PAPBD TA 2014. Pelaksanaan proyek dikerjakan rekanan PT Fifo Pusaka Abadi. Sedangkan keterangan di kantor kecamatan Bajenis, ada 8 kepala keluarga yang memberikan lahan mereka secara percuma untuk pembangunan jalan dan jembatan itu. Masing-masing 3 KK di Kel. Pinang Mancung dan 5 KK di Kel. Brohol. Luas lahan yang mereka serahkan ke publik untuk pembangunan jembatan, yakni 800 meter di Kel. Brohol dan 240 meter di Kel. Pinang Mancung. Selain itu, lahan yang akan dibebaskan untuk jalur penghubung berikutnya sejauh 1.500 meter. “Semua masyarakat pemilik lahan sudah ikhlas memberikan lahan jika nanti dibutuhkan masyarakat,” tegas Surya Dharma, SH.
Selanjutnya, jika jembatan sei Sibarau I itu selesai dikerjakan, maka ada ratusan kepala keluarga yang akan terhubung. Keterangan Camat Kec. Bajenis, paling tidak dengan adanya jembatan itu, akan ada 665 kepala keluarga yang terhubung di dua kelurahan itu, di mana sebelumnya terisolasi. Kepala keluarga yang terhubung ada 425 KK di Kel. Brohol dan 240 KK di Kel. Pinang Mancung. Tak hanya itu, dampak positif keberadaan jembatan penghubung, saat ini sudah terasa. “Dulu harga tanah per rante sebelum ada jembatan Rp25 juta, tapi sekarang harganya sudah melonjak hingga Rp50 juta per rante, padahal jembatan belum siap,” terang Camat Bajenis itu.
Akan halnya jembatan sei Padang II yang penghubungkan Kel. Bandar Sakti dan Kel. Karya Jaya, terus diupayakan dapat dilaksanakan sesuai konsep P3. Namun, diakui Camat Bajenis, hingga kini masih ada 3 pemilik lahan yang belum ikhlas untuk memberikan lahan mereka bagi pembuatan jalan penghubung itu.
“Kita berusaha agar konsep Wali Kota soal pembangunan model P3 itu bisa dilaksanakan di jembatan sei Padang II,” tandas Surya Dharma, SH. Sedangkan Jalan Gelatik saat ini telah menjadi jalan andalan petani di Kel. Pinang Mancung, karena digunakan sebagai jalur pengantar hasil bumi agar bisa lebih cepat tiba di pasar-pasar perdagangan kota Tebingtinggi. Abdul Khalik
12 February 2015
Posted by abdul Khalik
Tag :

Perluasan Jangkauan Pelayanan RSUD T.Tinggi (2)


            DI ANTARA keberhasilan Pemerintah Kota Tebingtinggi yang pantas diapresiasi pada 2014, adalah perluasan jangkauan layanan kesehatan yang dilakukan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Kumpulan Pane, di Jalan Kumpulan Pane, Kel. Pasar Baru, Kec. T.Tinggi Kota. RSUD itu, yang sejak lama menjadi RSUD rujukan kedaruratan di Pantai Timur Sumatera Utara, terus berbenah diri, melengkapinya dengan berbagai fasilitas modern.
            Pada 2014, salah satu pekerjaan melengkapi fasilitas RSUD yang ada selama ini, adalah dengan penambahan ruang rawat inap pasien, dengan jenis yang kian variatif. Mengambil lahan di eks Akademi Kebidanan (Akbid) Pemko Tebingtinggi yang telah direlokasi ke Jalan Gn. Leuser, Pemko Tebingtinggi selanjutnya membangun ruangan rawat inap yang baru. Kini RSUD kota Tebingtinggi telah memiliki 363 tempat tidur untuk pasien rawat inap.
            Jika pada 2013, kapasitas ruangan RSUD kota Tebingtinggi hanya 79 ruang dengan 266 tempat tidur, maka pada 2014 terdapat kenaikan signifikan ruangan dan tempat tidur, mencapai 97 tempat tidur. Artinya, RSUD telah memiliki 363 tempat tidur. Penambahan ruangan dan tempat tidur itu, meliputi ruangan VIP 40 tempat tidur, ruang I 328 tempat tidur, ruang kelas III 124 tempat tidur, ditambah ruang kerja pendukung kinerja kesehatan.
            Produk pelayanan RSUD kota Tebingtinggi juga kian bervariasi. Terdapat 11 jenis layanan medik dan non medik yang saat ini dilakukan RSUD itu. Layanan itu meliputi, medik umum, yakni medik dasar, medik gigi dasar dan KIA/KB. Layanan gawat darurat (UGD), spesialis dasar, meliputi penyakit dalam, anak, bedah dan obstetri dan ginekologi.
            Selanjutnya, pelayanan spesialis penunjang, meliputi anastesiologi, radiologi, rehabilitasi medik, patologi klinik dan patologi anatomi. Untuk pelayanan spesialis lainnya meliputi, telinga, hidung tenggorokan (THT), kesehatan jiwa, penyakit syaraf dan penyakit mata. Kemudian pelayanan spesialis gigi/mulut meliputi, orthodonsi, dan bedah mulut. Selain itu ada pula pelayanan sub spesialis, yakni bedah onkologi serta ginjal dan hipertensi. Sedangkan pelayanan keperawatan, meliputi VIP/Super VIP serta Kelas I, II dan III. Kemudian, pelayanan pelayanan penunjang klinik, meliputi perawatan ontensif, pelayanan gizi, farmasi, sterilisasi intrumery/CSSD, rekam medis dan kerapian fisik.
            Untak layanan penunjang non medis, yakni laundry, instalasi gizi/dapur, instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit, promosi, K3 RS, instalasi pengolahan limbah dan incinerator, ambulance dan mobil jenazah, pemulasaran jenazah, pemadam kebakaran, sarana air bersih, parkir dan MCK umum. Untuk layanan administrasi, ada MoU, personalia, keuangan, SIM RS dan keamanan.
            Tak hanya itu, untuk pelayanan pasien rawat jalan, RSUD dr. H Kumpulan Pane, memiliki 16 poliklinik yang diisi para dokter spesialis, meliputi, poli umum, penyakit dalam, spesialis anak, spesialis paru, spesialis bedah, kebidanan dan kandungan (obgyn), spesialis mata, spesialis THT, spesialis kulit dan kelamin, gigi dan mulut, neurologi/syaraf, jantung, poliklinik DOTS, penyakit trofik infeksi, poliklink jiwa, serta pelayanan VCT dan HIV/AIDS.  Untuk semua poliklinik itu, RSUD menyediakan ruang tunggu yang nyaman, dengan fasilitas ruang AC, TV, loket kasir, SIM RS dan prosedur pelayanan serta papan himbauan.
            Khusus ruang UGD, RSUD Pemko Tebingtinggi memiliki fasilitas 5 tempat tidur, 1 ruang observasi, dilengkapi alat kegawat daruratan, seperti monitor dan EKG, dilengkapi pula dengan 2 kamar operasi, kamar perawat supervisor, ruang radiologi, ruang apotik dan kasir. “Kita menyiapkan 4 dokter umum dan 2 dokter jaga untuk dinas sore dan malam, ditambah 15 perawat dan 3 bidan,” terang Ka. RSUD dr. H. Kumpulan Pane, dr. H. Nanang F. Aulia, Sp.PK.
            Total tenaga medis dan non medis di RSUD Pemko Tebingtinggi itu, berdasarkan data 2013, sebanyak 445 orang, di mana 298 berstatus PNS dan 147 non PNS.  Dari jumlah itu, rumah sakit terbesar di wilayah pantai timur itu, memiliki 21 dokter spesialis, 32 dokter umum, 4 dokter gigi, 1 magister kesehatan tromped (MKT), 1 magister kesehatan, 8 sarjana kesehatan masyarakat, 20 sarjana keperawatan, 15 tenaga farmasi, 6 fisioterapi, 108 D3 keperawatan, 50 D3 kebidanan, 28 teknisi medic, serta sejumlah tenaga pelayanan lainnya.
            Untuk layanan spesialis, RSUD menyiapkan 15 jenis dokter spesilis mendukung kinerja selama ini. Meliputi, spesialis penyakit dalam, bedah, kebidanan dan kandungan, THT, paru dan saluran nafas, neurologi, patologi klinis, anak, anastesi, tropik dan infeksi, mata, jiwa, penyakit kulit dan kelamin, jantung serta radiologi. Ada pula 32 dokter umum pendukung dan 4 dokter gigi.
            Kinerja RSUD sepanjang tahun, juga menunjukkan peningkatan signifikan, baik dari jumlah pengunjung maupun pemasukan yang diterima. Untuk pelayanan UGD, pada 2013 terdapat 8.509 pengunjung dari tahun sebelumnya 7.146 pengunjung. Pada instalasi rawat jalan, pengunjung mencapai 39.124 orang. Untuk instalasi rawat inap, terjadi juga peningkatan pengunjung dari 7.857 orang meningkat jadi 8.935 orang. Untuk kamar operasi, RSUD melakukan layanan sebanyak 871 kali, meningkat dibanding sebelumnya hanya 606 kali. Untuk layanan ICU (intensive Care Unit), terdapat peningkatan layanan dari 559 kali menjadi 666 kali kunjungan. Sedangkan layanan radiologi mencapai 6.491 kunjungan dibanding sebelumnya 5.952 kunjungan. Untuk laboratorium patologi klinik sebanyak 621.172 tindakan dibanding tahun sebelumnya 125.878 tindakan. Salah satu layanan favorit yakni haemodialisa mencatat 5.426 kunjungan meningkat dibanding sebelumnya 5.279 kunjungan Abdul Khalik

10 February 2015
Posted by abdul Khalik
Tag :

Mengukir Jejak Spriritualitas Dari Masjid Agung T.Tinggi

Pengantar Redaksi
          TANPA terasa tahun 2015 sudah merambat jalan, setelah 2014 berakhir. Masa satu tahun yang berlalu, tentu meninggalkan banyak catatan penting yang menyenangkan maupun sebaliknya. Bagi Pemerintah Kota Tebingtinggi dibawah pimpinan Wali Kota Ir. H. Umar Zunaidi Hasibuan, MM dan pasangannya Ir. H. Oki Doni Siregar, ada banyak prestasi kerja yang diukir. Laporan khusus ini melihat apa keberhasilan yang diraih Pemko Tebingtinggi setahun belakangan. Berikut penulis muat laporan ini dalam empat tulisan.@

           
LAMA umat Islam kota Tebingtinggi mendambakan adanya Masjid Agung, sebagai lambang keberagamaan di kota itu. Suara agar kota Tebingtinggi memiliki masjid besar telah ada sejak satu decade lalu. Harapan itu, wajar muncul, karena umat Islam kota Tebingtinggi belum memiliki masjid dalam artian sesungguhnya. Yakni, komplek Islamic Centre di mana terdapat masjid besar, lembaga pendidikan, perpustakaan serta aula untuk melakukan berbagai kegiatan. Disamping fasilitas publik yang mendukung semua kegiatan sosial keagamaan yang ada.
            Sejak masa kemerdekaan, umat Islam kota Tebingtinggi dan sekitarnya menjadikan Masjid Raya Nur Addin sebagai masjid besar (Jamik). Padahal, masjid di Jalan Suprapto, Kel. Badak Bejuang, Kec. T.Tinggi Kota itu, bukanlah masjid resmi pemerintah daerah. Melainkan masjid bersejarah dibangun raja dari Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi bernama Tengku Haji Muhammad Nurdin pada 1870, yang belakangan diwakafkan kepada umat Islam kota itu.
Selama ini, Masjid Raya Nur Addin acap kali dipakai sebagai tempat kegiatan keagamaan Pemko Tebingtinggi. Di antaranya, menerima kepulangan jemaah haji, maupun kegiatan resm keagamaan lainnya. Bahkan, sejumlah kegiatan syiar Islam, seperti peringatan Maulid Nabi dan Israk Mikraj dilaksanakan di gedung umum, karena memang Pemko Tebingtinggi belum memiliki fasilitas keagamaan representatif.
Menyadari pentingnya masjid resmi pemerintah daerah, sebagai pusat kegiatan keagamaan dan syiar Islam, Wali Kota Tebingtinggi Ir.H. Umar Zunaidi Hasibuan, MM, pada 2013, intens membicarakan pembangunan Masjid Agung kota Tebingtinggi. Ternyata, semua kalangan menyatakan dukungan, baik DPRD kota Tebingtinggi maupun Ormas dan OKP Islam serta masyarakat luas termasuk dari kalangan nonmuslim. Dalam sidang paripurna DPRD kota Tebingtinggi untuk APBD 2013, diputuskan pembangunan Masjid Agung kota Tebingtinggi. Sejumlah lokasi pun kemudian dilirik untuk pertapakan masjid. Namun, karena sulitnya lahan, Pemko Tebingtinggi akhirnya mengambil kebijakan menggunakan lahan areal perkemahan pramuka sebagai pertapakan masjid besar itu, seluas 11.000 meter2. Lokasi lahan berada di Jalan Gunung Agung, Kel. Lalang, Kec. Rambutan, sedangkan perkemahan pramuka dicarikan penggantinya.
Atas dasar itu, Pemko Tebingtinggi kemudian menganggarkan dana hingga Rp44.315.578.000 untuk pembangunan Masjid Agung, di mana dana itu murni dari APBD Pemko Tebingtinggi bersifat multiyear serta donasi masyarakat melalui zakat, sedekah dan infak yang dikumpulkan oleh Badan Amil Zakat (BAZ) kota Tebingtinggi.
Berdasarkan data proyek yang berhasil diperoleh, Masjid Agung kota Tebingtinggi itu nantinya memiliki panjang 52,70 meter, lebar 38,80 meter, terdiri atas tiga lantai. Lantai basement seluas 1.630 meter2 terdiri atas tempat parkir 600 m2, ruang perkantoran sebanyak 10 unit, ruang workshop 1 unit ditambah ruang genset, ruang panel dan ruang pompa.
Pada lantai satu, dengan luas 1.500 m2, terdapat ruang sholat seluas 1.150 m2, ruang takmir 1 unit, ruang kenaziran 1 unit dan ruang perkantoran remaja masjid dan lainnya 2 unit. Sedangkan di lantai tiga dengan luas 1.500 m2, juga terdapat ruang sholat seluas 1.060 m2, ruang perpustakaan 1 unit, ruang kenaziran 1 unit serta ruang lembaga keagamaan 2 unit.
Selain ruang masjid yang menjadi bangunan induk, terdapat pula bangunan lain sebagai pendukung masjid. Bangunan-bangunan itu terdiri dari bangunan aula, menara A dan B. Bangunan aula, nantinya mempunyai luas 27 x 39 meter2 berfungsi sebagai ruang pertemuan. Sedangkan pada lantai basement ruangan aula akan dijadikan sebagai tempat parkir, ruang workshop, ruang panel, kamar mandi, dan beberapa tempat lainnya. Pada aula ini, khususnya di lantai satu akan ada pula ruangan yang bisa dijadikan sebagai tempat walimatul urusy (tempat pesta pernikahan).
Pada menara A, dengan luas 11,30 x 11 meter2, akan memiliki ketinggian hingga 53,70 meter. Bangunan itu, akan difungsikan sebagai tempat wudlu dan kamar mandi serta tempat penampungan air dan penanda keberadaan masjid. Sedangkan pada menara B dengan luasan dan ketinggian yang sama dengan menara A, juga difungsikan sebagai ruang wudlu, kamar mandi, khusus pada bagian basement. Selain di lantai satu juga akan dibangunkan kamar mandi (pria) dan kamar mandi (wanita).
Wali Kota Tebingtinggi, Ir. H. Umar Zunaidi Hasibuan, MM, dalam suatu perbincangan, mengatakan keberadaan Masjid Agung kota Tebingtinggi ini, sangat penting, mengingat selama ini umat Islam belum memiliki komplek Islamic Centre sebagai pusat kegiatan keagamaan. Jika masjid ini selesai, diharapkan seluruh aktifitas umat Islam bisa terpusat di sini, mulai dari kegiatan ibadah, sampai kegiatan keilmuan maupun kegiatan kemasyarakatan. “Saat ini pembangunan sudah mencapai 70 persen, diharapkan pada akhir 2015, bangunan Masjid Agung segera bisa dimanfaatkan,” tegas Ir. H. Umar Zunaidi Hasibuan, MM.
Sedangkan Ketua Panitian Pembangunan Masjid Agung Ir. H. Muhammad Nurdin yang juga Kadis Pekerjaan Umum, mengatakan pembangunan Masjid Agung ini konsepnya adalah Islamic Centre, di mana eluruh aktifitas keagamaan, mulai dari ibadah, pendidikan, pelatihan, dakwah Islam hingga kegiatan sosial dan kebudayaan Islam bisa dilaksanakan di komplek itu.
Kini harapan umat Islam untuk memiliki Islamic Centre yang representatif untuk kegiatan sosial keagamaan tinggal menunggu waktu. Apa yang dilakukan Wali Kota Ir. H Umar Zunaidi Hasibuan, MM, merupakan salah satu wujud keberhasilan visi dan misinya dibidang keagamaan yang pernah dijanjikannya kepada umat Islam, saat maju sebagai calon Wali Kota Tebingtinggi pada 2010 lalu. Abdul Khalik
09 February 2015
Posted by abdul Khalik
Tag :

Penderita HIV/AIDS T.Tinggi Meningkat 80%, Umumnya Tertular Dari Suntikan

PENDERITA penyakit pelemahan kekebalan tubuh alias human imunodefisiensi virus (HIV) yang menyebabkan penyakit acquired imunodificiency syndrome (AIDS) di kota Tebingtinggi, hingga akhir Januari 2015, meningkat 80%  dibanding 2014. Sebagian besar korban tertular akibat jarum suntik tajam (pecandu Narkoba) maupun suntik tumpul (hubungan kelamin).
Hal itu ditegaskan Kepala RSUD dr.H. Kumpulan Pane, dr. H. Nanang F. Aulia, Sp.PK, Rabu (4/2), saat rapat dengar pendapat dengan DPRD kota Tebingtinggi, di ruang komisi. RDP itu dipimpin Ketua Komisi A Hendra Gunawan, SE, dihadiri lima anggota Dewan, yakni Asnawi Mangkualam, SHI, Zulfahmi, SE, M. Syahril, SPd.I dan Muliadi.
Lebih rinci, Nanang menerangkan, dari hasil pemeriksaan di RSUD hingga awal Februari 2015, terdeteksi 33 penderita HIV/AIDS. Dari jumlah itu, 15 orang di antaranya warga kota Tebingtinggi, 18 lainnya warga luar kota, yakni Sergai, Batubara, Simalungun dan Asahan. Bahkan, dari jumlah itu dua diantaranya merupakan bayi yang terkontaminasi dari ibunya. Untuk kota Tebingtinggi tujuh penderita perempuan dan delapan lainnya pria.
Selanjutnya Nanang menambahkan, angka hingga Februari 2015 itu merupakan peningkatan luar biasa penderita HIV/AIDS jika dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada 2014 terdata 41 penderita HIV/AIDS, di mana 21 orang diantaranya warga dalam kota dan 20 warga luar kota.  Dari jumlah itu penderita dalam kota itu, 11 perempuan dan 10 pria.  “Jika melihat kecenderungan ini, peningkatan penderita HIV/AIDS di Tebingtinggi meningkat sangat pesat,” tegas dokter spesialis patologi klinis itu.
Bahkan, tambah Nanang, jika dibanding 2013, jumlah penderita HIV/AIDS yang terdata di RSUD hanya delapan orang saja. Ditegaskan, seluruh data itu, khusus di RSUD kota Tebingtinggi saja dan tidak pada RSU lainnya. “Sebanyak 50 persen dari penderita tertular karena jarum suntik tajam dan suntik tumpul,” tegas Nanang memberikan kiasan.
Sementara itu, data lain yang dilansir anggota Dewan Muliadi, mengutip pernyataan salah satu LSM, terdapat 11 siswa SMA yang terindikasi ditulari HIV/AIDS. “Saya mendapatkan keterangan ini dari aktifits LSM,” tegas Muliadi. Jika hal itu benar, maka kecenderungan ini sangat mengkhawatirkan, kata Muliadi. Namun, dr. Nanang F. Aulia, Sp.PK, mengatakan dari datanya belum ada siswa yang teridentifikasi, tapi umumnya usia produktif di atas 20 tahun.
Terkait itu, Ketua Komisi A DPRD Hendra Gunawan, SE, menegaskan ada korelasi antara merebaknya peredaran Narkoba di kota Tebingtinggi dengan kecenderungan peningkatan drastis penderita HIV/AIDS. “Nanti kita akan lakukan RDP dengan RSU lain untuk melihat kecenderungan ini. Jika datanya menunjukkan peningkatan, kita minta Pemko Tebingtinggi melakukan langkah-langkah pencegahan,” tandas dia.
Siswa SMP Terindikasi Narkoba
Bersamaan itu, satu dari 24 siswa SMP di kota Tebingtinggi ternyata terindikasi mengonsumsi Narkoba. Hal itu diketahui setelah dilakukan tes mendadak oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumut, terhadap SMPN 8 kota Tebingtinggi, Selasa (2/2).
Pemeriksaan urin mendadak itu membuat pihak sekolah dan siswa SMPN itu terkejut, namun mereka terpaksa melakukan tes.  Dengan sigap sejumlah petugas dari BNNP dan petugas dari RSUD dan Dinas Kesehatan menggilir siswa untuk diabil urin mereka di kamar mandi. Hasilnya, dari 24 siswa yang diperiksa, terdapat satu siswa yang positif menggunakan narkoba jenis shabu.
Siswa yang terindikasi itu langsung mendapat bimbingan, kemudian mengakui telah memakai narkoba. Pihak sekolah, oleh BNNP diminta agar segera melakukan langkah-langkah merehabilitasi siswa pengguna narkoba itu. Hal itu, diakui Kabid Dayatama BNNP AKPB Drs. Shafwan Khayat, M.Hum, bahwa seorang siswa yang diperiksa mengakui menggunakan shabu.
“Hasil tes ini jadi pelajaran bagi masyarakat, khususnya orang tua agar selalu mengawasi pergaulan anak-anaknya di luar,” ujar Khayat. Dikatakan, kasus pengguna narkoba itu juga merupakan fenomena gunung es, di mana jika ada diketahui satu orang pengguna, artinya ada potensi 100 riu orang yang memakai. Khalik








05 February 2015
Posted by abdul Khalik
Tag :

Agama Sikh, Telah Ada Di T.Tinggi Sejak 1916

           
 AGAKNYA, tak banyak warga Kota Tebingtinggi yang tahu tentang agama Sikh. Keyakinan sinkretik antara Islam, Kristen, Buddha dan Hindu berasal dari Punyab, India itu, ternyata berdasarkan keberadaan rumah ibadahnya, telah ada di kota lintasan itu sejak 1916. Sikh Gurdwara, di Jalan Imam Bonjol, Kel. Satria, Kec. Padang Hilir, menjadi bukti keberadaan penganut Sikh yang hingga kini ajarannya tetap terjaga secara turun temurun.
                                          
            Saat ini, total penganut Sikh yang beribadah di Sikh Gurdwara Kota Tebingtinggi sekira 200 orang atau 50 kepala keluarga. Mereka tidak hanya bermukim di Tebingtinggi, tapi menyebar, dari Perbaungan dan Lubuk Pakam. Pada saat-saat tertentu, penganut Sikh akan berkumpul di Kota Tebingtinggi untuk beribadah dan  melakukan silaturrahmi antar sesama.

            Umat Sikh bergabung dalam ‘Yayasan Sosial Kaum Sikh Shree Guru Granth Sahib Darbar Gurdwara Parbandhak Committee’ yang memiliki pengurus lengkap serta seorang pendeta (Bhai). Menurut Bhai Dalip Singh Sosan, saat ini jumlah gurdwara di Sumut mencapai delapan unit. Masing-masing empat di Medan, satu di Tebingtinggi, satu di Binjai, satu Pematang Siantar dan satu di Kisaran. Namun, dua di antara gurdwara itu tidak lagi berfungsi, karena umatnya sudah tidak ada, karena pindah (urban). “Maklum saja, mereka juga ingin mencari kehidupan lebih baik, jadi mereka pindah dari sana,” ujar Bhai itu.

             Pertapakaan Sikh Gurdwara yang ada di kota Tebingtinggi, menurut pengakuan Wakil Ketua Yayasan Sosial Kaum Sikh Hari Singh Lalpur, dalam suatu perbincangan, merupakan wakaf seorang muslim. “Lahan gurdwara ini pemberian (hibah) seorang haji,” ujar Hari Singh. Awalnya rawa-rawa, kemudian ditimbun dan dibangun secara gotong royong oleh warga Sikh yang ada di wilayah Kerajaan Padang Tebingtinggi.

            Kala itu, terang Hari Singh, banyak warga India penganut agama Sikh yang bekerja sebagai buruh di berbagai perkebunan sekitar Tebingtinggi. Mereka direkrut oleh perkebunan, terutama pengusaha Inggris, Belgia dan Belanda untuk bekerja. Misalnya di perkebunan Pabatu, Bahilang, Tanah Besih, Sibulan dan Bangun Bandar. Jumlah mereka mencapai ratusan orang. Umumnya, berasal dari berbagai negara bagian India, misalnya Punyab dan Malabar, tapi ada juga yang berasal dari Penang dan Singapura.

Warga India itu, tidak hanya beragama Sikh, tapi ada juga Hindu, Islam dan Ahmadiyah. Tidak mengherankan, jika ada situs peninggalan mereka di Kota Tebingtinggi yang kini masih terjaga. Misalnya, penganut Islam memiliki Masjid Al Mukhlis (Masjid Keling) di Jalan A. Yani, Kel. Pasar Baru, Kec. T.Tinggi Kota. Juga Masjid At Thahir di Jalan Batubara, Kel. T.Tinggi Lama, Kec. T.Tinggi Kota bagi penganut Ahmadiyah. Bahkan, ada perkampungan India dikenal sebagai Kampung Keling (saat ini masuk dalam wilayah Kel. Tanjung Marulak, Kec. Rambutan).

Tak cuma bangunan, warga India juga memiliki areal pemakaman sendiri berada di Kampung Nenas, Kel. Pasar Gambir, Kec. T.Tinggi Kota. Areal pemakaman itu digunakan warga Hindu dan Sikh. Ada puluhan warga India yang dikebumikan di pekuburan itu. Sedangkan warga Sikh menjadikan areal itu tempat kremasi (pembakaran) jenazah. Namun, saat ini warga Sikh resah, karena beberapa bagian pemakaman itu diserobot pendatang. Hari Singh dari beberapa sesepuh agama Sikh mengatakan kiranya Pemko Tebingtinggi peduli terhadapkomplek pemakaman mereka, sebagai aset sejarah. “Kami khawatir lahan itu akan hilang nantinya,” keluh dia.

Terkait ajaran agama Sikh, Hari Singh Lalpur, mengatakan agama ini dibawa oleh Guru Nanak Dev Ji (1469-1539). Selanjutnya dikembangkan oleh 10 guru sesudahnya, yakni Guru Angad Dev (1504-1552), Guru Amar Das (1479-1574), Guru Ram Das (1534-1581), Guru Arjan Dev (1563-1606), Guru Har Gobind (1595-1644), Guru Har Rai (1630-1661), Guru Har Krishan (1656-1664), Guru Tegh Bahadur (1621-1675). Guru terakhir agama Sikh adalah Gobind Singh (1666-1708). “Agama Sikh menyebut pembawa agama ini guru dan bukan nabi,” terang Hari Singh Lalpur. Sesudah guru terakhir, tidak ada lagi guru bagi kaum Sikh hingga hari kiamat,” tegas Bhai Dalip Singh Sosan.

Kitab suci agama ini diberi nama Shree Guru Grant Sahib Ji. Bangunan suci agama Sikh bernama Kuil Mas (Golden Temple) terletak di kota Amritsar, Punyab, India. Total penganut agama Sikh di Indonesia mencapai 80 ribu orang. Umumnya, merupakan suku bangsa Punyab, namun ada warga Indonesia keturunan Batak, Karo, Simalungun dan Jawa yang juga menganut Sikh.

Konsep Ketuhanan dalam agama Sikh, menurut Hari Singh Lalpur, bahwa zat maha itu, tidak memiliki nama khusus. “Karena zat itu menempati segala situasi, kondisi, ruang dan waktu. Jadi Sikh mengakui semua penyebutan zat maha itu, apakah Allah, Yahweh, Ram, Brahma dan lain-lain,” terang Hari Singh. Prinsipnya Sikh menganut monotheisme.

Namun, dalam konsep kematian agama Sikh masih menerima konsep reinkarnasi keyakinan Hindu. Artinya, penganut Sikh memungkin kembali ke dunia, jika dosannya banyak. “Dalam kitab suci disebutkan, 10 diberikan kepada manusia, tapi hanya satu diminta (jaga hati) itu pun tak bisa dipertahankan,” ujar Hari Singh. Jika sudah demikian, dia harus hidup kembali untuk menjadi baik.

Sedangkan inti ajaran Sikh, terpusat pada manusia. Awalnya manusia harus mengenal kelemahan dirinya, kemudian kelebihan diri. Setelah melakukan pengenalan diri, maka manusia harus berusaha mencapai derajat tertinggi kemanusiaan menyatu dengan zat maha.

Tata cara peribadahan agama Sikh, dimulai dengan membaca kitab suci, selanjutnya berdoa dan ditutup dengan memakan kue suci disebut varshad. Varshad, merupakan manisan gabungan inti susu, inti tepung dan inti gula. Umat Sikh, umumnya merupakan vegetarian. “Kami makan ikan teri saja tidak boleh,” ujar Mami, kepala juru masak di Gurdwara Tebingtinggi.A. Khalik

30 January 2015
Posted by abdul Khalik
Tag :

Total Pageviews

- Copyright © KhalikNews -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -