25 November 2011

2 Wanita Super, 35 Tahun Menambang Batu Sungai


Pekerjaan yang dilakukan Warinem, 55, dan Soimah Purba, 47, lazimnya dilakukan kaum pria. Tapi, tuntutan hidup mengharuskan dua janda itu, menghabiskan sekira 35 tahun kehidupannya, berendam di air sungai Padang. Tubuh keduanya, kelihatan ringkih berbalut pakaian lusuh, basah kuyup. Dalam satu hari masing-masing bisa mengangkut empat hingga lima meter kubik batu dan pasir, dari dasar sungai ke pinggir sungai.

Kerja keras kedua perempuan itu, ternyata tak sebanding pula dengan penghasilan yang diperoleh. Hasil Sirtu yang mereka tambang, hanya dihargai Rp4 ribu/M3, sehingga dalam sehari penghasilan mereka rata-rata Rp20 ribu hingga Rp24 ribu saja. Kedua wanita super itu, kami sambangi, Kamis (24/11), saat melakukan ekspedisi hulu sungai Padang, di Desa Marjanji, Kec. Sipispis, Kab. Serdang Bedagai.

Warinem, ibu dari empat anak itu sosok pertama kami sapa. Ada kesan ragu-ragu di wajahnya, saat sejumlah rekan wartawan menyapa. Bermodalkan plengki dan cangkul karatan bergagang pendek, perempuan dengan tinggi badan sekira 1,40 Cm itu, terus mengorek Sirtu di dasar sungai dengan cekatan. Perlahan, kami menyapa dan mengajaknya berbincang, berlanjut dengan kesediaannya berkisah, tanpa meninggalkan pekerjaannya.

“Udah lama kali kerja ini, nggak ingat lagi sejak kapan,” ujar perempuan yang gerahamnya tak lagi menyisakan gigi yang utuh. Ketika disebutkan angka 40 tahun, Warinem, mengatakan mungkin lebih dari masa itu. Diungkapkan, pekerjaan menambang Sirtu dimulai ketika sang suami pergi meninggalkan dirinya bersama empat anak masih kecil-kecil. Karena tidak ada pekerjaan sedangkan anak butuh makan, warga Desa Marjanji itu, terjun ke sungai mengerjakan pekerjaan kaum pria itu. “Waktu itu saya berumur 25 tahun lah gitu,” cetus dia. Sejak itu, tak sehari pun pekerjaan itu ditinggalkan, hingga anak-anaknya beranjak dewasa dan kini telah pula berumah tangga.

Senasib dengan Warinem, dialami Soimah Purba. Perempuan bernama sama dengan sinden yang kini lagi naik daun asal Jogya itu, telah melakoni pekerjaan sebagai penambang batu di usia 10 tahun. Selama itu, janda beranak satu itu, menjadi pasangan tak terpisahkan dengan Warinem. Mereka bahu membahu melakukan pekerjaan itu, demi mendapatkan uang Rp20 ribu/hari.

Soimah bertutur, pekerjaan itu pula menyebabkan dirinya lambat mendapatkan jodoh. Alasannya, karena terus menerus berendam di air dan bekerja dari pagi hingga sore, sehingga jarang bergaul layaknya gadis remaja. Dia, baru menikah di usia 27 tahun. Namun, rumah tangga Soimah bubar, setelah sang suami meninggalkannya begitu saja bersama anaknya.

Dilema rumah tangga kedua wanita beda usia itu, mengharuskan mereka melakoni kehidupan itu bersama sejumlah wanita lain. Untuk tangkahan berbatasan dengan hutan lindung Gunung Simbolon itu, Warinem dan Soimah, merupakan dua perempuan di antara sejumlah laki-laki pekerja penambangan galian C itu. “Memang cuma kami berdua, kalau di sini,” imbuh Soimah Tapi lebih ke hilir ada juga sejumlah perempuan pemecah batu.

Beberapa rekan yang prihatin dengan kehidupan keduanya, menyodorkan sedikit uang untuk membeli makan siang. Terlihat, Warinem meneteskan air mata menerima pemberian itu, sembari menjunjung uang yang tak seberapa itu. Diakui, mereka berdua ada juga menerima BLT dari pemerintah.

Pun demikian, keduanya tidak pernah tahu, apa yang mereka lakukan telah merusak lingkungan sungai. Selama puluhan tahun mereka menambang, sudah tak terkira berapa ribu M3 Sirtu yang terangkut keluar. Hilangnya Sirtu itu, menjadi salah satu penyebab rusaknya hulu daerah aliran sungai Padang. “Kalau tak kerja ini, kami tak tahu apa lagi pekerjaan lain,” ujar kedua penambang perempuan itu. Sebuah paradoks kehidupan yang tak tahu dari mana harus memutusnya.

Melawan Tradisi Modern Komunitas Onthel


Menaiki sepeda onthel merk Gazelle buatan Belanda era 1940 an, Muliono alias Angga, 26, warga Link.02, Kel. T.Tinggi, Kec. Padang Hilir, Kota Tebingtinggi, Minggu (20/11), terlihat semangat mengayuh sepeda tua yang masih kokoh itu. Memakai baju lengan panjang putih dipadu celana hitam berselempang kain di pinggang, dilengkapi kopiah, calon pengantin itu, seakan melakukan perlawanan tradisi masyarakat modern. Dia, bersedia diantar ke rumah calon mertuanya menggunakan sepeda tua, dari lazimnya menggunakan mobil mewah.

Ditemani ayahnya serta belasan komunitas onthel, Muliono, menempuh jarak sekira 2 km dalam tempo sekira 20 menit hingga tiba di kediaman calon istrinya Ilva Izna, 24, di Link.01, Kel. Bandar Sakti, Kec. Bajenis. Sepanjang lintasan, banyak mata melirik perjalanan tak lazim dan agaknya pertama kali terjadi di kota itu. Banyak bibir tersenyum dan mata kagum mengiringi perjalanan sakral mereka. “Pengantinnya naik onthel,” teriak seorang ibu berlari dari dapur rumahnya, diiringi tawa cekikikan, sesaat tiba di lokasi pernikahan.

Muliono pun harus mengaso sejenak menunda ijab kabul untuk menstabilkan tubuhnya yang berpeluh. Terlihat di raut wajah sang pengantin perasaan gembira, karena hari terpenting dalam kehidupannya diisi peristiwa langka.

Unik memang. Sang calon pengantin itu diiringi sekira 15 pengendera onthel berpakaian jadul (jaman dulu). Ada yang menggunakan pakaian tradisional Jawa, ada juga berpakaian gaya ambtenar. Begitu pula dengan onthel yang dihiasi pernak pernik masa lalu. Semuanya serba klasik.

Niat awal mengiringi calon pengantin dengan sepeda onthel agar acara itu kelihatan unik dan berkesan. “Cuma ingin mengenang masa lalu, karena sekira tahun 1950 an, cara seperti ini lazim dilakukan,” ujar calon mertua Muliono. Tradisi demikian, diharapkan bisa menarik minat masyarakat kembali menggunakan sepeda sebagai alat transportasi alternatif dari kenderaan bermotor.

Yang pasti, ujar Wakil Ketua Sepakat (Serikat Pencinta Sepeda Antik Tebingtinggi) Junaidi Pasaribu, mengayuh sepeda sangat banyak manfaatnya. Selain menjadikan badan sehat, juga berperan mengurangi polusi udara (gas rumah kaca) yang diakibatkan bahan bakar fosil kenderaan bermotor. “Apa yang kami lakukan ini bisa disebut sebagai gerakan budaya dan sosial alternatif,” ujar Junaidi.

Tak cuma menghidupkan tradisi mengantar calon pengantin dengan sepeda, organisasi bersemboyan “ku kayuh sepedaku biru langitku” juga mengembangkan program pelestarian tradisi masa lalu, misalnya gaya berpakaian. “Kami juga berniat melakukan aksi sosial semacam donor darah dan penanaman pohon,” aku Junaidi.

Junaidi menuturkan pengalaman menggenjot sepeda. Satu tahun belakangan, imbuh dia, penurunan berat badannya mencapai 8 kg. Bahkan, kolesterol yang selama ini mengganggu aktifitasnya hilang. “Dulu saya menderita kolesterol akut, kalau mau tidur harus kusuk karena pegal-pegal. Tapi sekarang semua hilang,” ungkap dia. Junaidi mengatakan, saat ini, bersepeda sudah jadi kebutuhan utama, untuk kegiatan di luar.

Hal sama dirasakan Leman, 85, pensiunan PJKA. Kakek sepuh itu, masih kuat mengayuh sepeda onthel, bahkan mengalahkan yang muda-muda. Pria sepuh itu, masih mampu menggenjot sepeda hingga 120 km. “Kami pernah berkeliling dari Tebingtinggi-Serbelawan-Perdagangan-Lima Puluh balik ke Tebing, kakek itu sanggup,” ujar Khuzamri Amar, anggota sepakat lainnya.

Sepakat, organisasi wadah penggemar sepeda onthel di Kota Tebingtinggi, diperkirakan punya anggota sekira 500 orang. Mereka melakukan kegiatan rutin, mulai dari sekedar bersepeda berombongan mengunjungi berbagai tempat, hingga aksi-aksi sosial yang bermanfaat bagi masyarakat. Organisasi itu, dari pengakuan Junaidi telah ada sekira 2006, dengan kepengurusan periodik. “Saat ini ketuanya Suhu (pendeta Buddha), dia penggemar sepeda onthel,” ujar dia.

Keberadaan organisasi hobi itu, bermula dari sekumpulan peminat sepeda tua klasik yang kemudian sepakat membentuk perkumpulan. Sepeda-sepeda tua yang selama ini tergantung di gudang, atau yang tinggal batang dan kerangkanya saja, kembali di upgrade hingga layak dikenderai. Eksistensi Sepakat sebagai perkumpulan hobi kian semarak, ketika bapak onthel Sumut Kompol Drs.H. Safwan Khayat, M.Hum diangkat sebagai Wakapolres Tebingtinggi.

Berbagai kegiatan pun meluncur dari organisasi itu. Bahkan berkembang budaya naik sepeda di kalangan remaja, melalui model penyewaan sepeda onthel. Dengan harga penyewaan terjangkau, banyak remaja menghabiskan waktu sore hingga malam, berseliweran di jalanan kota.

Kegandrungan pada sepeda onthel, ternyata menaikkan gengsi sepeda-sepeda tua itu. Kini, harga per unit onthel mulai menggiurkan. Harga termahal onthel di Kota Tebingtinggi tercatat Rp19 juta/unit, milik seorang pengusaha. Namun, ada juga onthel seharga Rp750 ribu saja. Onthel harganya bisa mahal, bila semua bodinya original, mulai dari cat, kerangka, hingga lingkarnya. “Semakin original, makin mahal harganya,” terang Junaidi. Onthel merek Gazelle buatan Belanda yang dikenderai calon pengantin Muliono, adalah milik Kompol Safwan Khayat, harganya mencapai Rp10 juta,” terang dia.

Selain Gazelle, terdapat sejumlah merek onthel yang jadi buruan kolektor, misalnya Simplex dan Fongers buatan Belanda, Humbers dan Philips buatan Inggris serta Flater buatan Jerman Barat. Ada juga merek lain, misalnya Religh, Hercules, Valuas, Hammer, Rescent, Vesting, umumnya buatan luar negeri. Jenis-jenis onthel itu, harganya bisa mencapai Rp150 juta untuk jenis onthel tertua.

Munculnya minat pada sesuatu yang klasik, bisa jadi hal wajar, dipicu kerinduan pada masa lalu. Gerakan demikian, mesti mustahil mengubah arah pendulum sejarah, paling tidak bisa menjaga tradisi positif yang seringkali terlupakan seiring peredaran waktu. Perlawanan mereka perlu diapresiasi positif.