Ke Melaka, Menikmati Negeri Warisan Dunia

Flor
del Lamar memiliki kisah buram, karena perilaku para
kelasinya. Usai menaklukkan Melaka, anak buah kapal dipimpin D’ Albugerque itu
menjarah isi negeri Melaka. Termasuk salah satu barang berharga yang dilarikan,
adalah mahkota bertatahkan permata lambang kewibawaan raja Negeri Melaka.
Agakya, karena kutukan masyarakat negeri Melaka, atas tindakan penjarahan itu
kapal Flor de Lamar tenggelam di
lepas pantai Aceh pada 1512, saat akan kembali ke Lisabon. Namun, hingga kini
bangkai kapal itu belum bisa ditemukan. Padahal, diperkirakan ada 200 ton
permata serta berbagai barang perhiasan mewah hasil jarahan di Negeri Melaka
yang ikut tenggelam bersama kapal itu.
Mengenang pahitnya penjarahan Portugis atas Melaka,
kapal Flor de Lamar itu pun
diabadikan dengan membangun replikanya. ‘Kapal Samudera’ begitu pemerintah
Negara Bagian Melaka menamainya. Replika kapal perang plus kargo itu, kini bisa
kita saksikan di museum maritim Negeri Melaka, di mana ruang dalam replika itu
telah disulap jadi arena pameran. Lama penulis tertegun pada salah satu
prasasti di depan replika kapal itu, ketika mengunjungi museum maritim
(samudera), bersama keluarga, Maret
lalu. Salah satu kalimat prasasti yang bernas adalah; ‘Hilangnya kuasa politik
maka hilanglah segalanya.’
The
World Heritage
Kunjungan ke Melaka ini, merupakan yang kedua
kalinya penulis lakukan, setelah sebelumnya pada 2007, saat mengikuti kegiatan
‘Konfensyen Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI).’ Pada kunjungan pertama itu,
penulis tak berkesempatan mengeksplorasi berbagai hal tentang Melaka. Hal itu
menimbulkan rasa penasaran, hingga berniat suatu saat akan kembali ke negeri
yang didirikan seorang bangsawan dari Kerajaan Sriwijaya bernama Parameswara
antara 1400-1403.
Berniat mengajarkan arti tadabbur alam (mengenal alam) kepada anak. Penulis memutuskan
berangkat ke Melaka secara estafet melalui darat dan menyeberangi laut dengan
tidak menggunakan pesawat udara. Dari kota kediaman, kami berangkat dengan rute
Tebingtinggi-Dumai-Melaka.
Jarak tempuh Tebingtinggi hingga ke Dumai, Prov.
Riau berkisar 10 jam. Kami pun memutuskan untuk berangkat malam, dan tiba di
Dumai pagi hari. Sesampainya di Dumai, kabut asap menyelimuti kota pelabuhan
itu, akibat kebakaran hutan di pinggiran kota. Mengaso sekira satu jam di rumah
keluarga, Kami pun segera meluncur ke loket kapal motor cepat (speed boat), pada salah satu jalan utama
Dumai. Harga tiket Dumai-Melaka pulang pergi dipatok Rp540 ribu/orang. Hanya
ada satu agensi yang mengoperasikan speed boat Dumai-Melaka. Jam keberangkatan
hanya tiga kali dalam satu minggu, dengan sekali keberangkatan/hari.
Speed boat berkapasitas 250 penumpang itu, berangkat
sekira pukul 11.00. Dengan jarak tempuh sekira 2,5 jam jika cuaca di selat
Sumatera cerah. Kapal motor ‘Malindo’ itu tiba di pelabuhan Melaka sekira pukul
14.00 waktu Melaka. Pelabuhan Melaka terkesan unik. Pasalnya, pelabuhan itu
tidak berada di tepi laut, tapi berada di tepian sungai, sekira 100 meter dari
muara Melaka.
Bangunan pelabuhan pun cukup megah, yang kabarnya
direhab setahun belakangan. Petugas imigresyen
yang mengawal wisatawan/pendatang terlihat berwibawa, tapi tetap ramah. Tak ada
pemeriksaan passport yang bertele-tele. Meski sempat juga terlihat beberapa
pekerja asal Indonesia yang diperlakukan sedikit khusus oleh petugas
imigresyen. Hanya dalam rentang 30 menit, semua pemeriksaan imigresyen clear sudah. Di ruang kedatangan,
sejumlah penawaran penginapan menghampiri kami. Namun, berbekal alamat hotel
yang sudah kami kantongi, taksi langsung meluncur menuju hotel kelas ‘homestay’
di kawasan ‘Dataran Merdeka’, Melaka. Sewa taksi hanya RM20.
Syukur di penginapan itu, masih ada dua kamar yang
bisa kami tempati dengan sewa RM90 per hari. Meski kamar ‘Hollitel hotel’ di Jalan
PM 5 Plaza Mahkota Bandar Hilir itu
kecil, maklum sekelas homestay, tapi kebersihan serta fasilitas kamar mandi dan
air conditionnya cukup melegakan.
Kami pun mematok tiga hari menginap di kawasan rumah tua berjarak beberapa
puluh meter dari tepian muara sungai Melaka.
Kawasan kota tua itu memang menjadi favorit
wisatawan, karena suasananya yang nyaman dengan bangunan ruko-ruko tua berusia
satu abad. Kawasan itu jadi menarik, karena menjadi tempat mengaso kawanan burung
gagak (corvus enca) yang ribuan
jumlahnya. Jika sore hari, burung-burung itu hinggap di puncak deretan ruko dan
mengeluarkan suara ‘jeleknya’ disaat semburat matahari senja memancar nyala.
Tapi lama kelamaan suara itu menjadi nikmat sebagai penanda masuknya kegelapan
malam.
Di sekitar komplek ruko tua itu, tidak pula susah
mencari kedai nasi. Ada sejumlah kedai yang menyediakan makanan Melayu yang pas
untuk lidah orang Sumatera. Hanya jika mau makan, kita harus ambil sendiri apa
yang diinginkan. Penjual hanya melihat ke piring kita dan menghitung berapa
harganya. Jarak antara ruko tua itu dengan Dataran Merdeka, hanya berkisar 50
meter saja. Dari esplanade Melaka
itu, kami menikmati indahnya malam di Melaka.
Sejenak mengunjungi Megamall, kami bergerak kembali
memasuki Dataran Merdeka menikmati harum aroma bunga dengan temaram lampu-lampu
hias yang menerangi kegelapan taman. Di ujung taman hingga pukul 21.00 waktu Malaysia,
menara Taming Sari masih beroperasi memanjakan wisatawan yang hendak cuci mata
di suasana malam negeri Hang Tuah itu. Menara Taming Sari merupakan menara
pandang setinggi 110 meter yang dapat berputar 360 derajat dengan putaran jenis
gyro yang pertama kali di Malaysia.
Kabarya menara pandang ini mulai beroperasi pada 18 April 2008 lalu.
Sedikit lasak, malam itu penulis sempat blusukan di
lintasan sekitar menara Taming Sari. Berjalan sekira 30 meter ke belakang dari
bangunan menara itu, penulis menemukan replika kapal Flor de Lamar yang diceritakan di awal tulisan ini. Ternyata,
lintasan itu menuju komplek museum maritim Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM).
Dari titik itulah keesokan harinya, penulis coba menyusuri keunikan negeri
‘warisan dunia’ (The World Heritage)
yang telah ditetapkan Unesco PBB itu.
Keesokannya, saat matahari masih malu-malu menyapa
semesta, penulis pun bergerak menuju museum maritim TLDM. Dari sana, terbukalah
semua lokasi wisata Melaka yang ternyata sebagian besar berada di tepian
sungai. Berbagai situs yang jadi warisan dunia itu, umumnya berada sisi kiri
dan kanan sungai Melaka. Situs-situs warisan dunia itu menunjukkan betapa
Melaka dulunya merupakan bandar perdagangan di muara sungai. Ada sejumlah
peninggalan Portugis dan Belanda di tepian sungai Melaka. Kita bisa menikmati
gereja tua Christ Church dibangun 1741, St Peter’s Church dibangun pada 1710 yang
kini masih terawatt rapi.
Kawasan stadhuys berada di inti kota berjarak sekira
50 meter dari bibir sungai. Komplek ini merupakan pusat pemerintahan Belanda di
masa lalu. Seiring waktu sempat pula dijadikan sekolah. Belakangan komplek ini
dijadikan sebagai museum sejarah dan etnografi. Di komplek ini juga ditemukan
galeri Laksamana Cheng Ho, museum
sastera, museum demokrasi, dan museum Yang Dipertugan Negeri. Komplek Stadhuys
member kesan menarik, karena umumnya bangunan tua di sana bercat merah.
Terdapat juga situs masa lalu, semacam kincir air
Sultan Melaka, juga sisa benteng di tepian sungai dan komplek Jonkeers Street yang
merupakan ‘China Town’ Melaka, dari masa lalu hingga kini. Lebih ke hilir dari
berbagai bangunan itu, kita bisa menikmati keindahan sebuah hotel di tepian
sungai Melaka, namanya ‘Casa del Rio.’ Hotel ini salah satu hotel mewah ‘Five
Star’ yang tampilannya ditata apik, sehingga memikat pengunjung yang
melihatnya. Apalagi di malam hari. Pada hari-hari tertentu, yakni Sabatu-Minggu
kawasan di seberang Casa de Rio, terdapat tempat penyewaan sampan untuk
melayari sungai Melaka, dengan tamannya yang indah. Sayang penulis dan keluarga
tak sempat menikmati naik sampan, karena hari itu tak ada kegiatan dimaksud.
Ada juga beberapa lokasi wisata yang agak berjauhan
dengan tepian sungai, berada di perbuktian dengan ketinggian sekira 20-30
meter. Misalnya benteng Portugis A Famosa atau Porta de Santiago. Benteng tua
ini persis berada di puncak bukit. Meski cuma sisa bangunan masa lalu, tapi
bisa dikemas secara menarik, sehingga layak dikunjungi wisatawan. Di dalam
bangunan itu, ada sejumlah penawaran untuk kenang-kenangan, misalnya lukisan
diri yang bisa diselesaikan dengan cepat oleh pelukisnya.
Menghilangkan rasa penasaran lain, berombongan Kami
juga mengunjungi masjid terapung Melaka yang berada di tepian pantai.
Keberadaan masjid ini mengingatkan penulis pada masjid terapung Jeddah Arab
Saudi. Masjid terapung Jeddah itu berada di tepian Laut Merah dan jadi
persinggahan akhir jemaah umroh, sebelum kembali ke tanah air.
Penataan bangunan masjid terapung Melaka, sangat
memikat. Dengan satu kubah induk berbentuk separuh bulatan, masjid itu juga
memiliki empat kubah di setiap sisinya. Puncak kubah berbentuk kuncup persegi
empat. Terdapat juga menara yang tinggi menjulang serta taman di halaman masjid
yang tertata rapi. Dengan pintu masjid yang lebar, angin masuk secara bebas,
sehingga suasana di dalam masjid itu jadi sejuk, membuat mengantuk. Komplek
masjid itu dilengkapi dengan perpustakaan masjid dan kamar wudhu’ yang
representatif.
Keunikan
Sungai Melaka
Jika hendak menjadikan sungai sebagai salah satu
daya tarik wisata, pergilah belajar ke Melaka bagaimana cara mengelola sungai
dengan baik. Anjuran ini tak lah berlebihan, andai kita mau melihat bagaimana
seriusnya pemerintah Negeri Melaka menata sungai mereka yang lebarnya kurang
dari 10 meter, dengan panjang dari muara hingga batas wilayah pariwisata Melaka
hanya sekira 10 km.
Sepanjang tahun muka air sungai ini tidak pernah
surut atau banjir dan meluber ke kawsan sekitarnya. Ketinggian muka air
terjaga, baik di musim hujan maupun kemarau. Tak pernah terdengar laporan
maupun berita, sungai Melaka meluap dan menimbulkan kerusakan maupun korban,
seperti yang banyak kita dengar di negeri ini setiap musim penghujan. Bahkan,
tepian alias bantaran sungai, dipenuhi bangunan yang berderet dari era masa
lalu maupun bangunan modern yang megah dan mewah, tanpa ada kekhawatiran
pemiliknya, suatu saat mereka akan diserang air bah.
Warna air pun demikian, sepanjang tahun air sungai
Melaka berwarna hijau sejak dari muara hingga ke hulu sungai. Airnya mengalir
dengan tenang ditingkahi sedikit gelombang kecil dari sapuan angin sepoi
dipermukaannya. Tak sehelai sampah pun terlihat di permukaan sungai, meski ada
ribuan orang setiap hari yang melintasi tepian sungai, meski terdapat areal
pedestrian di kedua sisi tepi sungai. Itu karena di berbagai tempat tersedia
tong sampah dan peringatan untuk tak membuang sampah ke dalam sungai. Tumbuhan
perusak semisal eceng gondok juga tak
kelihatan, di tepian sungai, meski sejumlah tanaman air lainnya seperti
kangkung tumbuh bebas, namun terkontrol.
Pada hari-hari tertentu, aliran sungai ini dibuka
sebagai transportasi wisatawan yang ingin menikmati lintasan sungai sejauh 5 km
ke hulu dan kembali ke muara. Ada sejumlah ‘sampan’ yang dimodifikasi
sedemikian rupa untuk memanjakan pengunjung. Harganya pun tak mahal. Untuk
sekali pelayaran pulang-balik cukup mengeluarkan kocek RM30/orang.
Seorang pemancing di muara sungai, kepada penulis,
mengatakan kedalaman sungai Melaka mencapai 10 meter di muara dan rata-rata 3-5
meter di sepanjang aliran sungai. Kedalaman sungai, kata pemancing itu,
dikontrol setiap saat oleh sebuah instansi dengan menempatkan eskavator yang
siap mengeruk dasar sungai kapan pun diperlukan. Dengan kedalaman badan sungai,
dipastikan debit sungai sebesar apapun pada musim hujan akan mampu tertampung
dan tidak meluap.
Akan tetapi untuk mengontrol muka air itu, sebuah
dam (bendungan) disiapkan di muara sungai. Dari maket yang dipajangkan di taman
sungai, kontrol air sudah dimulai dengan menutup sungai sekira 100 meter
sebelum titik muara. Selanjutnya, air sungai dialihkan ke jalur buatan dengan
panjang dua kali lipat atau sekira 200 meter dari normalnya. Kemudian, di ujung
jalur sungai yang dibuat itulah, terletak dam pengatur debit air. Saat debit
air surut di musim kemarau dam ditutup, tapi saat musim hujan dam dibuka.
Kondisi itu lah yang membuat debit air sungai Melaka dalam posisi stabil.
Penasaran dengan kondisi kawasan sungai Melaka yang
memikat, penulis menetapkan hati berjalan kaki sejuah 10 km, sejak dari muara
sungai. Menyusuri pedestrian sebelah kiri sungai, saat blusukan, penulis
menemukan sejumlah komplek rumah toko atau kawasan pecinan modern, kemudian
melintasi halaman depan hotel Casa del Rio. Dari sana, penulis tiba di titik
masuk Jonkeers Street yang dikenal sebagai kawasan perdagangan atau China Town.
Menyeberangi jembatan Jonkeers Street, penulis
sempat mengabadikan pelayaran sampan menggunakan mesin temple, di badan sungai.
Kali ini perjalanan menelusuri sisi kanan tepian sungai. Di sisi kanan ini,
suasananya membuat kita seperti kembali ke masa lampau. Dari tepian sungai itu,
kita bebas memandang kawasan Stadhuys yang terkenal dan penuh memories itu.
Dari sekian panjang perjalanan menyusuri sungai itu,
penulis terpaku pada peran serta penduduk sekitar sungai. Meski bangunan rumah
masih tetap membelakangi sungai, tapi bangunan dapur mereka dihiasi dengan
lukisan mural yang menarik. Lukisan mural itu juga menggambarkan semangat
multikulturalisme budaya yang hidup dikalangan warga Melaka. Selain itu,
nama-nama kampung juga terlihat diabadikan dalam plakat-plakat yang menarik.
Misalnya, Kampung Jawa dan Kampung Bugis yang telah ada sejak ratusan tahun
lalu di sana. Kampung itu tetap mencirikan etnisitas yang menetap di sana,
mulai dari rumah, gedung pertemuan hingga rumah ibadah. Pada kedua kampung itu,
ciri-ciri Kejawaan dan Kebugisan, terlihat terpelihara dengan apik.
Banyak hal sebenarnya yang belum terungkap dalam
perjalanan penulis. Ruang yang terbatas mengharuskan penulis membatasi diri
mengungkapkan semua yang mengesankan di Negeri Melaka ini. Hanya satu hal yang terpenting dari itu;
Melaka adalah negeri yang miskin sumber daya alam tapi kaya sumber peninggalan
masa lalu. Ditengah dua kekurangan dan kelebihan itu, Melaka mampu
memaksimalkan potensinya dengan baik, sehingga membuat tertarik wisatawan
mengunjungi negeri itu. Lalu kita bagaimana? Abdul Khalik
Post a Comment for "Ke Melaka, Menikmati Negeri Warisan Dunia "