----iklan---- Masjid Babul Jannah Sipispis, Tonggak Awal Pengembangan Dakwah Islam di Simalungun - JEJAK KHALIK
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Masjid Babul Jannah Sipispis, Tonggak Awal Pengembangan Dakwah Islam di Simalungun




Arsitektur Masjid Babul Jannah Pekan Sipispis, Kec. Sipispis, Kab. Serdang Bedagai, memiliki ciri etnik. Berbeda dari umumnya, bentuk kubah masjid itu, merupakan ciri khas masjid-masjid umat Islam dari etnis Simalungun. Ornamen Masjid Babul Jannah, telah ada sejak 1963, ketika masjid itu pertama kali direhab dari kondisinya semula.

Jika anda datang dari Kota Tebing Tinggi dengan jarak tempuh sekira 30 Km, masjid itu persis berada di pintu masuk Pekan Sipispis. Menara masjid yang renta, menjulang setinggi 10 meter, berdiri bersamaan dengan bangunan utama. Hingga kini, pisik bangunan masjid itu tidak pernah mengalami rehab, sehingga kondisinya tetap seperti 46 tahun lalu. Keadaannya terlihat renta termakan usia, tapi keberadaan masjid itu sangat penting bagi dakwah Islam di Simalungun.

Kapan pastinya masjid itu pertama kali berdiri, tak ada informasi yang jelas. Hanya, menurut cucu pendiri masjid Zulfan Purba, 44, Minggu (23/8), Masjid Babul Jannah pertama kali berdiri sekira tahun 1940 an. Diceritakan, adalah tiga bersaudara berasal dari Tanjung Balai merantau ke Sipispis. M. Thahir, Abdul Latif dan Tisah sekira tahun 1930 an. Dalam perantauan itu, ketiganya melakukan tugas dakwah di kalangan masyarakat asli etnis Simalungun yang kala itu masih banyak yang menganut animisme alias Pelbegu. Di samping mencari penghidupan dengan membuka hutan.

Saat itu, ketiganya menetap, hanya menemui satu langgar di Kampung Sipispis, berada di sekitar umbul (pancuran air) berjarak 800 meter dari pertapakan masjid sekarang. Dari keberadaan langgar, diketahui status warga di sana apakah muslim atau tidak dengan melihat mereka sholat di langgar itu. Meski telah ada warga Simalungun yang muslim, tapi perilaku kehidupan mereka sehari-hari masih tidak berubah dari kebiasaan Pelbegu.

Keberislaman warga Simalungun kala itu, kata Ketua BKM Masjid Babul Jannah M. Jamalen Purba, tidak lepas dari pengaruh etnis Melayu di daerah Pesisir, terutama dari Kerajaan Padang yang berpusat di Tebing Tinggi. Di Kampung Sipispis dulunya, ada perwakilan Kerajaan Padang berkedudukan di sana bernama Tengku Tokoh Saragih. Bangsawan Kerajaan Padang itulah, pra dan pasca kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 yang banyak mengenalkan Islam kepada warga Simalungun. “Beliau membuka perkebunan, jadi banyak anak buahnya dari berbagai suku yang masuk Islam,” kata pensiunan guru itu. Namun, akibat maraknya pergolakan politik dan sosial kala itu, dakwah Islam kepada muallaf jadi terabaikan.

Tidak mengherankan, jika berpuluh tahun, keberislaman warga Simalungun dan suku lainnya di Sipispis, jadi hidup segan mati tak mau. Dibilang Islam mereka tak menjalankan ajaran Islam, dibilang bukan Islam, mereka mengaku Islam. “Hingga tahun 1970 an masih ada orang Islam di sini yang memelihara babi,” aku Zulfan. Selain banyak pula di antaranya yang melakukan berbagai ritual yang melanggar ajaran Islam.

Syukur saja misionaris Kristen yang juga marak melakukan kristenisasi, tidak masuk ke Sipispis. Mereka bertahan di Kampung Siporkas (saat ini berada di Kec. Raya, Kab. Simalungun) sekira 20 Km dari Sipispis. Bukti keberadaan misionaris Kristen masih terlihat dengan adanya gereja di nagori itu yang dibangun pada 1932.

Kondisi demikian, ditemui tiga bersaudara itu, sesampai di Sipispis. Untuk melakukan pendekatan dakwah, ketiganya merubah strategi dengan mengambil marga Purba sebagai marga mereka. Sebenarnya kakek kami itu bermarga Sitorus dari Tanjung Balai,” ungkap Zulfan Purba. Tapi karena Sipispis ini masuk dalam pengaruh marga Purba Dasuha, jadilah mereka bermarga purba juga, ujar dia. Pengambilan marga itu juga memudahkan ketiganya membuka hutan adat di sekitar kampung itu.

Sambil berladang, dua bersaudara yakni M. Thahir Purba dan Abdul Latif Purba, melakukan dakwah di kalangan warga muslim. Demikian pula dengan Tisah, tidak mau kalah dengan kedua kakaknya. Mubalighah itu keluar masuk kampung di sekitar Sipispis untuk mengajarkan Islam. Ketiganya menghabiskan umur untuk mendakwahkan Islam kaffah kepada masyarakat Simalungun. Kegiatan dakwah mereka bahkan menembus hingga ke Raya Kahaean dan Silau Kahaean. Banyak pula di antara warga yang belum Islam mereka syahadatkan dan bimbing secara terus menerus. Tegasnya, bila melihat keberadaan Islam di Simalungun Atas, jejak tiga bersaudara itu tak kan bisa ditinggalkan dari sejarah umat Islam di sana.

Puncak dari kerja dakwah itu, dilakukan M. Thahir dengan membeli sebidang tanah di pekan Sipsipis. Di atas lahan itulah dibangun pertapakan masjid pertama di bumi Sipispis. Bangunan masjid itu sederhana terdiri dari kayu dan papan. “Tanah itu dibeli atok kami dari Leman Sidabutar,” tegas Zulfan. Pada 1963, pisik masjid itu direhab oleh ketiga bersaudara itu. Kondisinya tak berubah setelah 46 tahun kemudian. H.M Thahir Purba, meninggal 1980, Abdul Latif meninggal 1990 sedangkan Tisah meninggal pada 1994.

Hingga kini, di Pekan Sipispis hanya ada satu masjid yang dibangun tiga bersaudara itu, selebihnya ada 4 unit mushalla. Sedangkan penduduknya saat ini 95 persen beretnis Simalungun, Jawa, Mandailing, Batak, Melayu, Minang, umumnya Muslim. Sebelum 1965 ada pendatang dari etnis Tionghoa. Namun pasca landreform mereka pindah.

Kehidupan keagamaan di kalangan masyarakat Sipispis sangat harmonis, internal maupun eksternal. Di bulan Ramadhan, pelaksanaan tarawih dilakukan 11 rakaat tanpa sama sekali menimbulkan friksi paham. “Tarawih 11 rakaat itu sudah dilakukan sejak dulu masa Almarhum M. Thahir Purba masih hidup,” kata Amir Hamzah Nasution.. Di sini tak dipersoalkan, karena semua menerima jumlah rakaat tarawih itu, aku tokoh sepuh yang dipercaya menjadi imam masjid, sepeninggal M. Thahir Purba dan Abdul Latif Purba.

Sedangkan dengan kalangan non muslim, sikap saling menghormati tetap terjaga. “Saya berdampingan dengan tetangga Kristen, tapi mereka bagus,” kata Ridwan Sinaga, 63, jemaah Masjid Babul Jannah. Kalau mereka makan makanan yang dilarang dalam Islam, biasanya dilakukan tengah malam, kata dia. Diakui, umumnya warga non muslim merupakan pendatang, karena bekerja di Sipispis.

Pasca pemekaran, diakui kehidupan di Sipispis semakin membaik. Hanya mereka berharap kondisi jalan yang menghubungkan Sipispis-Tebing Tinggi segera diperbaiki untuk memperlancar arus hasil bumi keluar. “Bupati sekarang kami kira bagus dan perhatian,” ujar salah seorang jemaah Masjid Babul Jannah.

Post a Comment for "Masjid Babul Jannah Sipispis, Tonggak Awal Pengembangan Dakwah Islam di Simalungun"